SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
"Ngabuburit Senja" Jangan Menyerah!

Membaca kisah Nabi Ayub di masa pandemi Covid-19 ini terasa menyejukkan. Kisah itu membuat hati tenang, dan bisa mengambil pelajaran bagaimana menghadapi penyakit yang membuat seluruh penduduk bumi ini kalang kabut. Ayub adalah potret manusia yang memiliki kesabaran tiada batas ketika mendapat ujian hidup. Ia tak berkeluh kesah, tidak sumpah serapah, apalagi melakukan pelanggaran. Itulah Ayub, yang menurut sejarawan Ibnu Ishaq (704-768), putra Mush putra Razah putra Aish putra Nabi Ishaq putra Nabi Ibrahim.
Sebelum diberi ujian, kehidupan Ayub sangat baik. Keluarganya bahagia. Anak-anaknya banyak. Secara ekonomi, sungguh tidak ada masalah. Menurut Ibnu Katsir dalam “Al-Bidayah wan Nihayah”, ia adalah orang kaya asal Hauran. Letak Hauran di Suriah selatan hingga memasuki batas Yordania dan Dataran Tinggi Golan di bagian baratnya. Harta Ayub yang berlimpah itu tertulis di Alkitab, “…Ia mempunyai banyak budak-budak, 7.000 ekor domba, 3.000 ekor unta, 1.000 ekor sapi, dan 500 ekor keledai. Pendek kata, dia adalah orang yang paling kaya di antara penduduk daerah Timur” (Ayub 1: 3). Dalam kehidupan dunia, Ayub sudah mencapai semuanya. Dan, Ayub adalah seorang nabi yang saleh dan selalu bersyukur.
Namun itulah kehidupan, terkadang batasnya begitu tipis, antara kaya dan miskin, antara sehat dan sakit. Saat Allah memberi ujian, semua harta Ayub lenyap. Ternak-ternak mati atau hilang. Semua anak-anaknya meninggal. Bahkan sekujur tubuhnya digerogoti penyakit kulit. Ayub terkulai, tubuhnya lemah. Hanya hati dan lidahnya yang tidak sakit. Semua orang menjauhinya, merasa jijik. Sang istri, Rahmah binti Afraim bin Yusuf bin Yakub bin Ishaq bin Ibrahim – di mana silsilah mereka bertemu – begitu telaten merawatnya. Rahmah bekerja sebagai buruh untuk bertahan hidup. Bahkan saat tiada yang mau memakai tenaganya karena takut tertular, Rahmah menjual potongan rambut untuk biaya makan. Selanjutnya baca:

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda