SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
BERSIKAP TERHADAP KEADAAN

Setiap orang yang tinggal di rumah dalam waktu yang cukup lama, biasanya mengalami “Cabin Fever”. Ia merasa emosi, terisolasi, sulit bergerak, bosan, galau, jemu, dan mengalami kebingungan untuk beraktivitas. Selama isolasi di rumah, aktivitas yang dapat dilakukan cukup terbatas seperti membaca, menulis, memasak, menemani anak-anak belajar, menata rumah, berolahraga terbatas, menonton televisi, membuka gadget untuk berinteraksi dengan dunia luar. Tak ada kesempatan, bahkan tak boleh kita berkomunikasi langsung ke luar rumah. Kita tak boleh keluar dari rumah. Disamping ia membahayakan diri kita sendiri, juga membahayakan keluarga kita dan orang lain. Kita tak tahu pasti, siapakah yang menjadi “pembawa Covid-19”? Karena Covid-19 ini bisa saja terbawa di dalam tubuh yang tak menunjukan gejala sakit. Oleh karena itu, “Cabin Fever” menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses isolasi. Orang merasa telah terputus dari dunia luar.

Sekarang kita menyaksikan bahwa banyak orang yang mengalami gangguan-gangguan psikologis. Orang merasakan kegelisahan, sulit berkonsentrasi, mudah tersinggung, mengalami ketidaksabaran. Perasaan dan emosi orang turun naik. Orang-orang mengeluh sulit berkonsentrasi, sulit tidur. Orang mengaku mengalami (degradasi) kelemahan mental. Orang ingin segera keluar. Berinteraksi secara lazim dengan keluarga besar, tetangga, kolega, teman sebaya, dan aktif di komunitas-komunitas. Orang-orang sudah bosan di rumah, dan ingin segera berpergian keluar rumah. Kemudian, banyak diantara kita mengalami depresi (dalam derajat tertentu). Bahkan acapkali menimbulkan symtom “splite personality”. Orang tak lagi bisa—secara jernih—memberikan respon terhadap fakta, keadaan, serta perkembangan situasi yang berlangsung di sekitar.

Tetapi, apa yang terjadi sekarang ini, pada diri kita, pada pribadi kita, sesungguhnya bisa kita kontruksikan penjelasannya dengan lebih rinci. Apa yang kita alami, apa yang kita lakukan di rumah, apa yang kita lakukan sehari-hari, merupakan sebuah konstruksi perjalanan sejarah faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian kita sendiri. Respon yang kita berikan kepada keadaan merupakan implikasi langsung dari “pemahaman orang” terhadap “the human nature”. Dan kita tahu bahwa setiap orang mempunyai asumsi-asumsi dasar dalam melihat “human nature” tersebut. Misalnya, sebagai sebuah contoh, ada orang yang melihat “human nature” itu dari sudut pandang rasionalitas. Ada pula yang melihatnya dari sudut pandang sebaliknya, yakni irasionalitas.

Cara pandang rasionalitas biasanya dikonstruksikan dari asumsi dasar bahwa setiap tindakan manusia, setiap aktivitas manusia itu “purely rational”. Apa yang dilakukan seseorang selalu melalui proses rasional, dimana proses berpikir terjadi. Prilaku manusia itu—sesungguhnya—dikendalikan oleh kekuatan “reason”. Didalam “reason”, proses-proses berpikir, mengkalkulasikan, dan membandingkan dilaksanakan, sebelum sebuah tindakan diputuskan. Walaupun proses itu terjadi didalam mental manusia, serta tak tampak dipermukaan. Dengan kata lain, proses intelektual merupakan aktivitas yang terpenting didalam menentukan setiap respon atau tindakan yang akan dilakukan oleh seseorang. Semua prilaku manusia “largely governed by cognitive processes”, kata George Kelly (1963).

Oleh karena itu, setiap orang umumnya mencari jalan alternatif-alternatif untuk menemukan “common place”, karenanya sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang juga mempertimbangkan sebuah upaya “replacement” yang bisa diterima oleh orang lain. Kemudian orang melakukan interpretasi terhadap sebuah keadaan. Disini, interpretasi terhadap setiap keadaan itu ditujukan untuk mencapai “revision or replacement”. Dengan demikian, orang bebas melakukan interpretasi terhadap cara pandang dunia (world views) dirinya, maupun cara pandang dunia orang lain. Itu sebabnya, orang memperlakukan keadaan atau fakta yang ada dihadapannya sebagai “subject to interpretation”. George Kelly—sekali lagi— mendeskripsikannya dalam sebuah ungkapan alegoris singkat dan menarik seperti ini: “objective reality or absolute truth are figments of the imagination. Truth, like beauty, exists only in the mind of the beholder”, (D. Bannister (ed), 1970). Interpretasi terhadap fakta dan kebenaran itu tergantung/ditentukan oleh orang yang mengimaginasikannya. Ia memiliki “free reason” dalam menyikapi setiap keadaan.

Berbeda dengan cara pandang rasionalitas seperti di atas. Ada cara pandang irasionalitas. Cara pandang ini mengatakan bahwa semua tindakan manusia itu terutama dimotivasi oleh “irrational forces”, dimana setiap orang—baik secara parsial ataupun secara total—berada dalam keadaan “unaware”. Orang bersikap karena orang itu “unaware”, atau tak menyadari, tak menduga-duga. Apa yang dilakukan oleh seorang manusia itu laiknya seperti ia sedang “bertimbang” dalam (gambaran) sebuah gunung es. Sebuah sikap atau tindakan yang muncul kepermukaan didorong oleh besarnya “unware” (ketidak-menyadari-an) yang ada dibawah gunung es (mental manusia). Manusia acapkali bertindak tanpa pertimbangan yang disadari. Ia melakukan respon dengan begitu saja, tanpa proses-proses kognitif. “Unconscious” lebih dominan dalam menentukan apakah seseorang akan bertindak atau bersikap seperti ini, atau bertindak/bersikap seperti itu.

Tetapi, sesungguhnya, respon seseorang terhadap suatu peristiwa itu bisa juga dilakukan di dalam sebuah proses tarik menarik. Tarik menarik antara rasionalitas dengan irasionalitas. “Pertempuran keduanya” memaksa terjadinya diskusi kalkutif di dalam diri manusia. Di sanalah, didalam arena pertempuran tersebut, ada pertukaran antara “derajat rasionalitas” dengan “derajat irasionalitas”. Di dalam pertukaran itulah terjadi—apa yang dikenal di dalam psikologi sebagai “submerged”. Rasionalitas berbagi dengan irasionalitas, begitu sebaliknya. “Submerged” inilah yang kemudian menjadi “their operation in human behaviour”. Sub-merger (antara kesadaran dan ketidaksadaran) akan menentukan respon setiap orang terhadap sebuah tindakan. Bahkan ia juga menentukan corak (tampilan, gaya, model) kepribadian seseorang didalam menghadapi dunia kehidupan.

Dari rumah, kita ingin belajar lagi, bagaimana sebuah sikap harus dilakukan. Kita ingin bahwa sikap-sikap yang muncul adalah sikap yang bijaksana. Sikap yang menunjukan ada pemahaman yang lebih komprehensif terhadap perkembangan situasi. Ada emphati terhadap perkembangan keadaan yang akan mengubah corak kita dalam berprilaku. Ada empathi juga terhadap keadaan diri kita dan keadaan diri orang lain. Memanglah kita mahfum, bahwa emphati itu tak bisa dilakukan secara berdiri sendiri. Ia melibatkan emosi, perasaan, situasi yang dihadapi oleh diri kita sendiri. Kadangkala, situasi dan kondisi diri kita sendiri memerlukan emphati sendiri, sehingga kita galau berada pada situasi didalam rentang emphati dan simpati, seperti kita sedang menghadapi kegalauan untuk berada “di rumah dan di luar rumah” dalam waktu yang tak pasti. Tetapi, marilah kita letakan kegalauan itu dalam kendali akal sehat: “Belajar di rumah, mengajar dari rumah, bekerja dari rumah, beribadah di rumah”. Dengan begitu kita juga berhari raya di rumah, bukan di kampung halaman.

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda