SEKILAS INFO
04-03-2021
  • 9 bulan yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 10 bulan yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 10 bulan yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
EFEK INTERAKTIF

Ketika orang intensif melakukan interaksi, membangun relasi satu dengan yang lain, maka sebetulnya orang-orang itu sedang melakukan “individual experiences”, walaupun orang itu berinterkasi dengan lawan bicara yang sama. Setiap interaksi, baik dalam bentuk percakapan, ataupun dalam bentuk isyarat tubuh, merupakan pemberian sinyal pengalaman dari satu orang ke orang lain, dan sebaliknya. Ketika interaksi itu berlangsung dengan intensif, maka ketika itu pula sinyal-sinyal pembagian pengalaman semakin banyak, semakin menumpuk, kumulatif, dan saling berkelindan.

Dari itu, kita tahu bahwa semua tindakan manusia itu tidak berdiri sendiri. Ia tak bersifat independen. Tindakan manusia acap merupakan reaksi dari stimulus yang datang kepada dirinya. Tindakan manusia bukanlah sesuatu yang bersifat “free choice”. Ia lebih banyak “ditentukan”. Oleh karena itu, muncul pertanyaan: apa yang menentukan tindakan manusia itu?

Kalau kita menggunakan pendekatan yang bersifat deterministik, seperti pernah dicontohkan oleh B.F Skinner (1974), kita akan tahu bahwa setiap tindakan manusia itu ditentukan oleh pengaruh “each man’s life”. Orang melakukan interaksi, memutuskan sebuah tindakan, karena orang itu “mencita-citakan” harapannya untuk mendapatkan sesuatu. Ada rangsangan yang datang kepadanya, kemudian rangsangan itu direspon karena didalam respon itu terdapat insentif. Dalam deskripsi Sigmund Freud (1943), orang melakukan sebuah tindakan karena adanya dorongan bawah sadar untuk mendapatkan sesuatu. Orang ingin mengekpresikan sesuatu yang selama ini disimpan (dimimpikan) didalam bawah sadarnya, sehingga tindakan-tindakan orang itu tidak muncul dengan begitu saja. Ia muncul karena ada desakan bawah sadar yang selama ini tersimpan di dalam bawah alam sadar dirinya. Itu yang kemudian disebut sebagai “behavioral determinants”; yakni semua (bentuk) konstruksi biologis yang ada di dalam diri manusia, yang menyebabkan ia melakukan dan atau menetapkan sebuah tindakan. Mungkin keadaan itu dapat kita rekonstruksi sebagai ada keterlibatan fungsi mental dalam sebuah tindakan manusia, baik yang disadari maupun yang tak disadari.

Oleh karena itu, setiap interaksi adalah merupakan sebuah persentuhan dari tindakan-tindakan, atau pergumulan dari sikap-sikap setiap individu sebagai subyek. Dalam persetuhan dan pergumulan inter-subyektifitas semacam itu, masing-masing individu membawa dan menyampaikan pengalamannya. Mereka melakukan “pertukaran pengalaman”. Dari satu pengalaman ke pengalaman yang lain. Dari satu variabel lingkungan ke variabel lingkungan yang lain. Dari satu budaya ke budaya yang lain. Dari satu pikiran ke pikiran lain. Dari satu ide ke ide yang lain. Di dalam persentuhan dan pergumulan itu, setiap individu melakukan proses belajar. Seringkali juga, setiap individu melakukan manipulasi ekperimental terhadap gagasan, ide atau sikap yang hendak dipertukarkan. Orang, kemudian, saling mengukur sampai batas mana dia berada, dan sampai tingkat apa dia bisa memahami tentang apa yang saling dipersentuhkan.

Dengan demikian, kita dapatlah mengerti bahwa setiap relasi interkasi, setidaknya mewakili dua hal penting. Pertama, bahwa interkasi dan relasi dapat dibangun diatas landasan pengalaman-pengalaman yang telah dirasakan, dilalui oleh setiap orang. Disini, orang memberi penilaian berdasarkan pengetahuan tentang apa yang pernah dialaminya. Kedua, orang melakukan interaksi dan relasi karena dorongan-dorongan bawah sadar yang selama ini tersimpan di dalam mental dirinya. Dorongan-dorongan bawah sadar sebagai hasil pertarungan imaginer di dalam diri manusia. Pertarungan antara keinginan-keinginan, khayalan-khalayan dengan realitas konkrit yang ada pada dirinya. Sebuah “pertarungan” yang kemudian diberi kanal oleh obyektifitas hati nurani, moral, dan kepatutan.

Oleh sebab itu, kita tahu bahwa sebuah interaksi itu tidaklah bersifat netral. Di dalam interaksi selalu ada “desakan-desakan” yang mendesak, baik dirasakan secara terang-terangan, maupun dirasakan secara pelan-pelan dan tersembunyi. Pergumulan tentang “desakan-desakan” itulah yang seringkali menjadi sebuah “ locus of causality” pada diri seseorang. “Locus of causality” ini kemudian mendorong orang terangsang untuk bersikap, merespon, serta memutuskan untuk berinteraksi kepada orang lain. Pertanyaan lanjutan kemudian muncul, siapakah yang dominan dalam interkasi itu? Apakah kita yang lebih dominan atau orang lain?

Pertanyaan itu tak mudah kita jawab. Sebab didalam pertanyaan itu telah terbesit asumsi adanya “inside man” dan “outside man”. Kita menjadi “inside man” dan lawan bicara kita menjadi “outside man”. Dalam asumsi itu, seolah terdapat diferensiasi absolut bahwa kita itu bukan “Kita”, tetapi “orang lain”. “Orang lain” yang berbeda sama sekali dengan “Kita”. Padahal, kita sudah mahfum bahwa apa yang ada di dalam diri kita, ada juga di dalam diri orang lain. Apa yang beda yang dimiliki oleh diri kita, juga dimiliki oleh orang lain. Dengan kata lain, di dalam diri kita dan di dalam diri orang lain terdapat unsur-unsur persamaan, dan bersamaan dengan itu juga terdapat unsur-unsur perbedaan. Unsur yang sama dan unsur yang beda ini, kemudian, memberi corak atau memberi efek terhadap bentuk interkasi yang dimunculkan oleh setiap individu.

Orang yang menganggap dirinya lebih berkepentingan akan tampak menjadi orang yang lebih dominan di dalam berinteraksi. Ia ingin menyampaikan semua yang dirasakannya—baik berdasarkan dorongan bawah sadarnya, maupun berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dilaluinya–kepada lawan-lawan bicara. Bahkan tak saja disampaikan kepada lawan bicara, tetapi juga bisa disampaikan kepada publik, walaupun ia tahu bahwa publik tak bersangkut paut dengan apa yang hendak diwacanakan. Inilah yang kemudian saya sebut sebagai efek interaksi, dimana orang berpikir untuk bersikap terhadap sesuatu masalah dikarenakan orang itu ingin mengekspresikan keluar apa yang ada di dalam dirinya, tanpa orang itu memahami bahwa apa yang diekspresikannya tak berhubungan dengan apa yang menjadi subyek relasi (atau materi pembicaraan). Oleh karena itu, jangan heran jika kita melihat dan mengalami langsung bahwa banyak orang yang asal saja menyatakan pendapat, tanpa sesungguhnya ia tahu bahwa ia tak tahu apa apa tentang apa yang ia tahu itu.

Dalam psikologi, gambaran orang yang berada didalam situasi semacam itu disebutkan sebagai orang yang sedang berada di dalam “blind spots”; yakni sebuah situasi dimana di dalam diri orang itu terdapat area yang selalu berada pada “human psychological makeup”. Orang selalu saja ingin memupur, memoles, menambal “apa yang bocor” di dalam (mental) dirinya. Padahal, kebocoran yang ada didalam (mental) dirinya itu terus menerus berlangsung, bahkan tanpa disadari. Dengan begitu, pada dirinya terpatri adigium: “Dia tak tahu bahwa dirinya tak tahu, karena itu ia menjadi tak tahu bahwa orang lain tahu bahwa dirinya tak tahu sesuatu”.

Itulah sebuah risiko dari relasi interkasi yang harus dihadapi oleh setiap orang. Orang harus memiliki batas-batas. Ia harus tahu dimana ia tahu, dan dimana ia tak tahu. Tanpa pemahaman utuh terhadap keterampilan pengendalian batas-batas pengetahuan yang dimilikinya, komunikasi dan interaksi akan menimbulkan banyak kehilangan makna. Yang terjadi kemudian adalah komunikasi tanpa makna. Ia ada hanya merupakan sebuah rangkaian kata-kata. Rangkaian kata yang satu meniadakan yang lain, dan sebaliknya. Itulah yang sekarang ini kita rasakan didalam cara kita berkomunikasi, baik dimedia sosial, ataupun dimedia lainnya. Kita menemukan sejumlah besar Interaksi dan komunikasi tanpa makna. Semoga kita bisa segara keluar dari implikasi efek interaktif ini, sehingga kita terhindar dari sikap-sikap yang hipokrisi.

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda