SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
20
Jun 2020
0
Keberagaman Latar Belakang

Pada bulan April 2009, ibu negara Amerika, Michelle Obama, berkunjung ke sebuah sekolah khusus perempuan. Seluruh muridnya berasal dari beragam latar belakang etnis, suku, asal muasal, status sosial, dan agama. Sekolah itu namanya “The Elizabeth Garreth Anderson Girl’s School”. Lokasinya di ibu kota Inggris, London. Melihat ragam latar belakang itu, Michele Obama mengatakan bahwa setelah melihat fakta yang ada di sekolah ini, saya menemukan banyak mutiara di dunia ini. Semua anda (anak-anak sekolah) adalah “mutiara, perhiasan dunia”. Anda semua berhasil “menyentuh hati saya”, dan kita harus memberi tahu dunia bahwa banyak sekali “wonderful girl’s like you all over the world”.
Latar belakang kultural, sesungguhnya, bukan halangan bagi praktik kehidupan. Setiap kita memiliki latar belakang kultural tersebut. Latar yang tak pernah kita tentukan sendiri. Latar yang diberikan secara utuh oleh Yang Maha Kuasa. Siapapun diantara kita lahir tanpa pernah didahului dengan permohonan latar belakang. Kita lahir di dunia ini dengan apa adanya, dan memenuhi ketentuan serta kehendakNya.
Latar belakang menjadi penting karena ia menjadi identitas dasar manusia sebelum berkenalan dengan manusia lain. Ada orang yang hadir ke dunia ini dengan latar etnis tertentu, ada pula yang hadir dengan latar etnis yang lain. Setiap latar etnis adalah mutiara yang memperkaya khasanah keindahan kehidupan dunia. Kita harus memelihara kekayaan latar itu, karena dengan itulah kita menjadi orang-orang yang plural, serta beragam. Tanpa kekayaan latar, kita akan menjadi mono-latar. Dan jika ini yang terjadi, kita tak pernah menemukan keindahan “mutiara-mutiara” di dalam kehidupan kita bersama. Dunia akan monoton, linier, tak berwarna, bahkan cenderung membosankan. Dalam dunia yang monoton, linier dan tak berwarna itu hanya ada satu cara hidup, hanya ada satu gaya hidup, hanya ada satu pikiran, hanya ada satu cara pandang: monoton.
Dalam “dunia tanpa mutiara-mutiara”, kehidupan adalah warna tunggal, yang tak menyediakan tempat untuk hadirnya warna-warna lain. Warna lain tak dipandang sebagai “warna”. Yang ada hanya keseragaman. Sungguh kehidupan yang tak berwarna dan pasti membosankan. Padahal, sejak manusia diciptakan dan dilahirkan, ia ditentukan dengan warna yang khas masing-masing. Pilihannya adalah membawa warna itu ketengah kehidupan manusia lain, untuk memberi warna kehidupan, agar kehidupan itu saling memberi warna, sehingga kehidupan menjadi lebih indah, lebih bermakna. Sang Pencipta telah lama memberitahukan bahwa manusia itu diciptakan dengan beragam warna, dengan beragam latar, agar manusia itu bisa saling mewarnai, bisa berkomunikasi dengan beragam latar, bisa mengenali satu warna dengan warna lain, agar manusia itu bisa menikmati kehidupan dengan “membahagiakan”. Itu sebabnya, jika kita (masih) mempersoalkan tentang latar, tentang warna kulit, tentang suku, tentang etnis, maka sesungguhnya kita telah melawan hakekat (penciptaan) kehidupan: “pada dasarnya (hakekat) manusia itu berwarna-warni”. Kita tak bisa mengubah warna itu atas dasar keinginan kita. Kita juga tak mungkin memaksa orang lain agar mengubah warna kulit dan sukunya. Kita juga tak bisa mempersoalkan mengapa saya hitam dan kamu putih. Mengapa kulit kamu coklat, mengapa kamu tak berkulit biru. Mengapa kamu bersuku jawa, dan yang lain bersuku batak, dan sebagainya. Semua yang melekat pada tubuh kita adalah pemberian (given) dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tak ada hak kita untuk melakukan protes, karena kita tak bisa mendikte Tuhan. Karena kita juga tak pernah mengajukan usul kepada Tuhan. Karena kita juga tak bisa menentukan kehendak diri sendiri untuk menjadi ini dan menjadi itu. Itulah “mutiara-mutiara” yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memperindah kehidupan kita sebagai manusia. Kehidupan di alam semesta yang saling “menikmati warna”. Kehidupan yang memberi pelajaran bahwa apa yang ada itu saling melengkapi, saling berkontribusi. “Bukankah pelangi itu baru disebut Pelangi jika ia berwarna-warni?”. Jika pelangi itu satu warna, tentu ia bukanlah pelangi. Bukankah mutiara itu baru dikatakan mutiara kalau ia berkilau. Jika ia tak berkilau, maka ia bukan mutiara. Oleh karena itu tak akan besar nilainya, bahkan mungkin tak berharga.
Itu sebabnya, Warna itu tak pernah tunggal, apalagi kehidupan kita. Kehidupan yang pasti plural, multi-ragam, kehidupan multi-warna, kehidupan multi-kultur. Maka dari itu, kehadiran beragam kultur mempersyaratkan kemampuan kita untuk “memahami” cara pengelolaan lintas kultural, baik dalam praktik kehidupan pribadi, apalagi dalam praktik kehidupan bersama. Tanpa pemahaman dan penghayatan latar lintas kultural seperti di atas, dunia kehidupan kita, atau dunia sosial kita, justru tak akan lebih indah.
Dalam studi tentang kehidupan, ada pendekatan yang bisa membantu untuk meningkatkan kemampuan pemahaman seperti yang dipersyaratkan di atas. Pendekatan itu sering disebut sebagai “the emic approach to cross-cultural”. Dalam pendekatan ini, kita diminta untuk memiliki keterampilan memahami orang lain “dari sisi orang lain”, bukan memahami orang lain dari sisi kita sendiri. Keterampilan menguasai pendekatan ini sangat penting untuk membimbing kita agar kita tak mudah menilai orang lain hanya dari sisi perspektif atau pandangan kita sendiri (saja). Dengan begitu, kita akan memahami dan mengerti mengapa orang lain berbuat begini dan berbuat begitu. Kita juga akan memahami mengapa kita sendiri berbuat seperti ini dan berbuat seperti itu.
Keterampilan menggunakan pendekatan emik dalam praktik kehidupan kita sangat penting, agar semua kita saling mengenal secara baik, mengetahui latar kultural orang secara utuh, dan kemudian bisa hidup berdampingan secara wajar. Kehidupan—kemudian—menjadi sangat indah, bergelora, serta rilek dan damai. Kehidupan yang miskin penilaian sepihak. Kehidupan yang saling menghormati, kehidupan yang tak diwarnai oleh klaim-klaim sepihak, kehidupan yang meletakan nilai-nilai Ke-Tuhan-an di atas segala (pertimbangan) apa yang akan kita lakukan.
Jika kehidupan semacam itu bisa kita upayakan, yang kemudian akan muncul kepermukaan praktik kehidupan kita adalah integrasi, keguyuban, keharmonisan, dan keamanan serta kenyamanan bersama. Kehidupan yang makin sejahtera, sentosa, adil dan makmur. Itulah kehidupan yang dibangun lewat sebuah peristiwa silaturahmi. Silaturahmi (mudik lebaran) yang berfungsi sebagai “management and fostering integration, given the diverse nature of it’s pupils”. Semoga mudik lebaran kali ini menambah satu benang rajutan lagi yang makin menguatkan hakekat penghormatan kita terhadap hidup kemanusiaan kita. Kita ini manusia, dan berkehidupan kemanusiaan, karena kita bukan mahluk yang lain. Selamat kembali ke pangkuan keluarga-keluarga tercinta, setelah kita diberi waktu untuk makin menghayati latar kultural kita masing-masing. Semoga kita tetap menjadi mutiara-mutiara di dunia ini, yang nilainya menawan, dan berkontribusi dalam pembentukan kehidupan yang lebih baik, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang lain di sekitarnya.

EFEK INTERAKTIF
22 Mei 2020

EFEK INTERAKTIF

REALITAS PERSONAL
22 Mei 2020

REALITAS PERSONAL

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda