SEKILAS INFO
04-03-2021
  • 9 bulan yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 10 bulan yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 10 bulan yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
Kerinduan Rasioanal

Mungkinkan Dia mengerti kami? Ketika ada jarak yang cukup jauh. Jarak yang tak saja bersifat material, tetapi juga jarak yang maya. Disana Dia berada. Sementara, Aku berada di sini. Aku dan Dia acap berhubungan. Bahkan seringkali hubungan itu disertai dengan isyak tangis. Ada kerinduan didalam tangis. Ada emosi di dalam jiwa. Ada “gelagak” didalam hati. Rindu dendam mengiringi setiap pertemuan. Kemudian, Aku pasrah dipangkuanMu.

Dalam jiwa yang menggelegak itu, ada dialog yang selalu saja menyisakan “kerinduan rasional”. Aku disini, Engkau disana. Aku sering bertindak karena menuruti apa yang Engkau perintahkan. Aku bersikap karena Engkau memberi sinyal. Aku acap mempersepsikan tanda-tanda yang Engkau berikan. Tak peduli apakah tanda-tanda itu jelas exposure. Tak peduli juga kalau tanda-tanda itu bersifat samar-samar. Aku merespon dengan persepsi menurut diriku sendiri. Sementara Engkau memberi tanda dengan kalimat, dengan perintah, dengan simbolisme, dengan peringatan, dengan petunjuk, dengan janji, dengan ancaman, dengan harapan. Engkau melukiskan masa depan dengan indah. Tapi, engkau juga menggambar masa depan dengan mengerikan. Seolah keindahan dan kengerian berada berdampingan. Engkau beri Aku sinyal, tanda, gestur, dan simbol-simbol.

Aku berkomunikasi. Aku lakukan itu ketika orang-orang sedang nyenyak mengistirahatkan jiwa dan raganya. Terkadang Aku melakukannya dipagi hari, ketika orang-orang masih harus menggosokan-gosokan matanya. Aku ingin selalu berada bersamaMU. Aku mengalami kerinduan yang masif. Menghentakan semua elemen yang ada didalam diri dan jiwa. Jiwaku acap terbang melayang. Menghampiri Engkau yang Aku rindukan.

Malam tadi, Aku juga tersungkur. MenemuiMu lagi, seperti biasanya. Aku merintih, bersenandung, dan memuji serta meminta. Tak ada satu orangpun yang menyaksikan. Pergumulan Aku dan Engkau adalah bertemuan kerinduan yang tak bisa dihalangi. Pertemuan yang tak bersekat. Hubungan yang “menyandingkan diri”. Aku dan Engkau—walaupun—berbeda sifat, berusaha melakukan “persetubuhan keyakinan”. Aku yakin bahwa Engkau memiliki kasih yang tak terperi kepada diriku. Aku tahu bahwa Engkau meridhoi apa yang Aku lakukan. Aku ingin tetap dalam kasih sayangMU.

Itulah kerinduan. Kerinduan yang selalu mengontrol sikap dan prilaku. Tak ada kerinduan yang sedemikian, kalau Aku tak meyakini bahwa Engkau memiliki kasih dan sayang yang besar. Aku selalu berharap bahwa Engkau memperhatikan diriku. Walaupun Aku tahu bahwa Aku telah menempatkan diriku didalam sikap “ego-selfisisme”. Aku ingin menang sendiri menurut aku sendiri.

Ego-selfisme itu susah sekali untuk dihilangkan. Aku ingin merasakan bahwa kehadiran Engkau tanpa batas. Itulah ego. Aku lupa yang seharusnya datang lebih awal adalah diriku. Tapi Engkau tak pernah sekalipun melakukan protes, atau menggerutu—seperti orang-orang lain menggerutu. Engkau, mungkin, hanya tersenyum nun disana. Sementara Aku gelisah merindukanmu. Dalam kerinduan itu, Aku sekarang berada. Ingin sekali berpegang erat kepadaMU. Tak ingin dipisahkan. Tak mau dinafikan. Aku rindu dengan kerinduan yang Engkau ciptakan. Aku sayang dengan cinta kasih yang Engkau berikan. Aku ingin tetap berada disampingMU. Semoga keinginan Aku ini tetap terjaga, agar Aku selalu dalam radar kasih dan sayangMu. Aku menikmati perjumpaan denganMU, seperti Aku sedang dilanda kepayang untuk selalu bersamaMU. Aku sadar bahwa Engkau Maha Tahu tentang apa yang Aku ketahui. Lantas Aku bertanya tentang masa depan! Akankah masa depan lebih?

Engkau yang menentukan masa depan, bukan Aku. Setiap detik, beralih kedetik lain. Yang satu ditinggalkan. Yang lain menyusul. Terus bergerak, berbaris runtut. Merangkai tahapan untuk menuju satu titik masa depan. Masa depan yang selalu Aku harapkan. Masa depan orang-orang yang selalu tunduk, tersungkur, dan “menagis diwaktu malam”.

Malam tadi, Aku lakukan semua itu. Aku “menyungkurkan diri”, bersujud memujiMU. Aku memanggilMU. Adakah gerangan tambahan kasih sayang. Adakah gerangan senyuman yang bisa lebih membahagiakan, sekaligus menenangkan? Dalam keheningan malam yang larut, malam yang gulita, terpancar sinar yang jernih dan kaya. Ada ruang yang luas dengan pemandangan yang indah. Ada taman yang agung dengan penghuni yang santun. Ada penganan yang marak dengan gempita rasa seolah memberi isyarat lagi bahwa hidup itu indah. Bahwa kehidupan itu harus dijalani dengan keindahan. Karena Aku ternyata diciptakan dengan keindahan yang seindah-indahnya. Itulah kesempurnaan yang unik dan tak mendua. Aku berbeda dengan yang lain, sekalipun Aku satu nasab dengan yang lain. Aku adalah milik unik diriku sendiri. Sementara Kamu adalah milik unik dirimu sendiri.

Dalam keunikan ada kekayaan warna. Warna-warna unik yang melekat, yang Engkau berikan. Sungguh, Aku tak menyangka bahwa Engkau memiliki begitu banyak ragam keunikan. Ragam yang bertaburan, yang tak pernah “bertabrakan” satu dengan yang lain. Lantas Aku bertanya, mengapa Aku sering sekali mempersoalkan ragam. Memperdebatkan ragam-ragam dan keunikan-keunikan itu. Padahal, semua ragam dan keunikan itu milikMU. Aku sesungguhnya tak boleh egois. Karena ego Aku itu adalah simbol narasi keterbatasan-keterbatasan yang kita miliki.

Sekali lagi Aku tersungkur. Bertanya kedalam lubuk hati yang dalam. Menggugat perasaan-perasaan. Mempersoalkan emosi-emosi. Menguji pikiran-pikiran. Ternyata Aku belum juga sampai ketempat yang kutuju. Jalannya masih jauh. Aku harus melaluinya dengan sikap khusyu, sabar dan keikhlasan. Dengan begitu, Aku akan sampai juga. Meraih masa depan yang didambakan. Dengan perasaan, emosi, gejolak hati, saya tersungkur lagi, seraya bermunajat kepada Engkau bahwa Aku akan selalu merindukanMU. Kerinduan yang tak biasa. Kerinduan yang datang dari integrasi kekuatan yang ada didalam tubuh dan jiwaku. Itulah kerinduan kepasrahan. Pasrah adalah jalan setingkat lagi untuk mencapai keikhlasan. Semoga aku bisa mencapai tingkat keiikhlasan itu, seperti yang pernah dicita-citakan oleh orang yang telah memberi tapak pada diriku, didalam nama. Aku mengucapkan salam kepada diriku sendiri. Selamat menjadi diri sendiri, karena diri sendiri itu unik. Keunikan yang diberikan khas untuk diriku sendiri, bukan untuk orang lain. Lantas Aku tersungkur lagi: sujud keharibaanMU!

Fakta dan Fenomena
20 Jun 2020

Fakta dan Fenomena

EFEK INTERAKTIF
22 Mei 2020

EFEK INTERAKTIF

KEWARGAAN ETIK
20 Jun 2020

KEWARGAAN ETIK

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda