SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
20
Jun 2020
0
KEWARGAAN ETIK

Ketika dunia semakin terbuka, dimana setiap orang bisa memasok informasi, gagasan, dan ide secara bebas, ketika itu pula muncul masalah-masalah etika ditengah kehidupan masyarakat. setiap orang bisa menyatakan ide, gagasan, perasaan kepada publik dengan begitu saja. orang tak selalu sadar bahwa informasi yang disampaikan kepada publik itu akan mempengaruhi respon orang lain, baik dalam berpikir maupun dalam bersikap. Setiap ide, gagasan, perasaan, dan informasi bisa mendorong interpretasi yang beragam. setiap orang bisa menyatakan sikapnya sendiri terhadap informasi yang diterima oleh dirinya.

Dalam kehidupan publik, siapa yang menjadi penjaga etika umum belum terlalu jelas benar. Kemudian, kita bertanya siapa yang sesungguhnya menjaga etika publik itu? Kalau kita perhatikan dari banyak pengalaman, “Ethical citizen” pada kehidupan masyarakat belum banyak berfungsi dengan baik. Bahkan digolongan masyarakat tertentu, orang belum mengetahui dengan apa yang dimaksudkan dengan “Ethical citizen” tersebut. Hal ini tampak ketika orang-orang acapkali menyampaikan pikiran dan pendapatnya dengan seenaknya, dengan sekenanya, tanpa didukung data, fakta. Orang berpendapat, menyatakan ide dan pikirannya tanpa pernah berhitung akan dampak turutannya kepada kehidupan bersama. Oleh karena itu, etika menjadi masalah besar. Padahal kita tahu bahwa etika berfungsi sebagai penjaga, “proper giudence” bagi kehidupan masyarakat. Minimal etika itu berfungsi sebagai “a neutral normative tool” bagi tata kehidupan sosial kita.

Dialam demokrasi, keterbukaan, kebebasan seperti sekarang ini, pertukaran ide, persetuhan gagasan, pertukaran nilai-nilai adalah normal dan mempunyai legitimasi. Setiap orang bisa mempertukarkan ide dan gagasannya pada setiap saat. Setiap orang bisa mengungkapkan perasaan dan pikirannya dengan bebas. Orang bisa menyatakannya secara terbuka, apakah pernyataan itu berbasis data dan fakta-fakta. Atau pernyataan itu hanya merupakan deklarasi perasaan-perasaan yang bersifat subyektif. Semua ide, pikiran, perasaan muncul kepermukaan. Ia dimunculkan tanpa “standarisasi etis” yang sepatutnya dimiliki oleh orang itu. Ide, gagasan, pernyataan dilansir tanpa mempertimbangkan “moral position”, sehingga yang muncul kepermukaan adalah jargon, atau pamplet-pamplet. Kemudian, pada gilirannya, kita menyaksikan begitu banyak pasokan informasi dan gagasan yang kurang bermakna. Dunia kehidupan “jalan pikiran kita” didominasi oleh informasi dan gagasan yang involutif. Dunia jalan pikiran masyarakat kita kurang banyak dipasok oleh kesadaran “to promote proper talk”; dimana diskursus dominan didalam masyarakat itu harus muncul dari hasil refleksi mendalam, proses moderasi personal, dan sikap keterbukaan pikiran serta perasaan.

Kalau kita lihat dari Perspektif Habermas, dunia sosial kita—terutama praktik kehidupan media sosial masyarakat kita—telah mengalami pergeseran yang tajam. Ia bergeser dari “kehidupan publik” kepada “privatisasi atau personalisasi”. Apa yang ada dipublik menjadi apa yang menjadi pribadi. Antara informasi publik dan informasi pribadi agak sulit dibedakan. “Yang pribadi” menjadi “Yang Publik”. Begitu juga sebaliknya. “Yang Publik” menjadi “Yang Pribadi” atau “Yang Personal”. Dengan begitu, Kehidupan publik mengalami privatisasi dan personalisasi. Kita, kemudian, sulit membedakan mana yang milik publik dan mana yang milik pribadi. Inilah yang selanjutnya kita kenal sebagai proses individualisasi “yang bersifat publik”. Urusan pribadi seolah menjadi urusan publik, dan begitu sebaliknya.

Ketika keadaan itu terus terjadi, pengelolaan kehidupan publik menjadi bersifat krusial. Masyarakat dihadapkan kepada dilema etis yang dramatis, dimana muncul pertanyaan-pertanyaan etis terkait dengan kehidupan publik kita. Salah satu pertanyaan penting menyangkut siapa yang (berkewajiban) mengontrol “a dominant stakeholder langguage”, sehingga (praktik) kehidupan (media) sosial kita dapat berlangsung dengan wajar, normal, rasional, mencerdaskan, dan tetap memperhatikan fatsun? Untuk menjelasakan hal di atas, saya ingin meminjam asumsi dari R Goodin (2000), yang menyatakan bahwa didalam diri manusia seharusnya ada “the internal forum” yang senantiasa melakukan asesmen terhadap nilai-nilai. “The internal forum” yang mengharmonisasikan informasi-informasi, ide-ide, gagasan-gagasan, perasaaan-perasaan sehingga yang muncul kepermukaan publik itu adalah “the proper talk with balance and appropriate information”. Tugas dari “The internal forum” itu adalah melakukan “a mental process of clarification about fact and values”, sehingga orang bisa berdiri di arena “be critically regarded as ingenious ways of conducting conducts”.

Dalam Perspektif Gramcian, bahwa situasi pergeseran hegemoni “Yang Publik” menjadi “Yang personal” dan seballiknya itu akan berlangsung terus menerus. Ia akan terjadi dimana saja. Setiap orang akan menentukan posisinya. Dan setiap orang akan didefinisikan oleh elemen-elemen hegemonik, baik yang diterima dan masuk akal, maupun didefinisikan oleh yang tak diterima (ditolak) dan tak masuk akal. Disitu ada “pertarungan” antara elemen-elemen yang bersifat hegemonik, baik (antar) yang resisten maupun yang menerima. Semua pengalaman itu saling terkoneksi satu dengan yang lain. Siapa yang dominan, dialah yang akan menyetir, mengendalikan persepsi publik. Apakah persepsi itu benar dengan dukungan fakta-fakta dan data; ataukah persepsi itu salah (keliru) tanpa dukungan fakta-fakta, dan data. Dengan kata lain, apa yang dinyatakan benar adalah apa yang bersifat hegemonik, walaupun ia miskin (atau tanpa) data dan fakta.

Di dalam situasi seperti di atas, terjadi—apa yang dikatakan oleh Nealon (2008) sebagai—“ways to mobilize focus or intensify, practices of resistence”. Orang tak lagi memperhatikan fakta dan data. Setiap orang kemudian mencoba mengkapitalisasi informasi yang tak benar, hoax, sehingga informasi semacam itu menjadi hegemonik dan “dianggap” itulah yang terjadi sesungguhnya. Dalam Perspektif Faucauldian, hegemonisasi semacam itu dapat saja berlangsung “from not only normative but also pragmatic acceptance”. Mereka yang terlibat proses hegemonik seperti itu tak memiliki alternatif berpikir, berefleksi, dan berperasaan. Karena didalam “Yang hegemonik” tak ada lagi jarak. “a government at a distance” tak ada, bahkan tak akan hadir didalam diri seseorang. Dengan begitu, orang-orang akan berada didalam situasi ambivalen. Orang tak lagi memiliki otonomi subyektif dalam menyampaikan pernyataan dan menilai fakta atau data. Orang menggeser dirinya sendiri kedalam situasi yang bersifat “heteronomous subject”. Orang-orang menjadi “pemain yang aman” dan menghindari risiko-risiko (survival) kehidupan.

Disitulah etika menjadi problematik. Etika adalah sebuah tanggungjawab yang akan memelihara rasionalitas-rasionalitas kehidupan bersama. Etika adalah “proper guidence”, dimana setiap anggota masyarakat menumpukan dirinya untuk melakukan refleksi untuk menjawab bagaimana seharusnya kita hidup dan berpraktik kehidupan. Etika adalah jangkar yang bisa memberi jarak atau tanda-tanda mana yang bisa kita lakukan dan mana yang tak bisa kita lakukan. Etika adalah “a moral principle”, yang menjaga tata kehidupan kewargaan kita bersama, agar kehidupan kita dapat dilangsungkan dengan bermakna, cerdas, dan makin sejahtera.

Untuk itu, yang diperlukan kedepan adalah membangun etika kewargaan dan kewargaan etik agar praktik kehidupan kita bisa berlangsung secara lebih berbudaya serta berkeadaban. Kita mencita-citakan untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Sebuah kehidupan yang pada praktiknya tak menyebabkan atau tak menimbulkan “distorted knowledge”; sebuah situasi dimana cara berpikir orang di dalam masyarakat itu dipenuhi oleh mitos-mitos, mengejar popularitas, pengiraan-pengiraan subyektif, atau dikuasai oleh narasi-narasi yang mengabaikan obyektifitas, apalagi dengan tak memperdulikan “sufficiently corresponding to reality”. Dengan begitu, kita berharap bahwa kehidupan kita dimasa depan akan lebih baik, lebih bermutu, dan lebih membahagiakan. MRL,2020.

Kerinduan Rasioanal
22 Mei 2020

Kerinduan Rasioanal

REALITAS PERSONAL
22 Mei 2020

REALITAS PERSONAL

EFEK INTERAKTIF
22 Mei 2020

EFEK INTERAKTIF

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda