SEKILAS INFO
25-02-2021
  • 9 bulan yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 10 bulan yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 10 bulan yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
NEGARA GAGAL DAN EKSTRASI INSTITUSI

Bulan Mei tahun 2013, sekitar hari-hari penting bagi saya. Saya sedang mengunjungi Imperial College London. Itulah kunjungan “incognito” yang tak pernah saya rencanakan sebelumnya. Saya datang kesitu hanya ingin melihat institusi itu. Karena Imperial College London tersebut cukup terkenal. Saya mengenalnya dari jauh. Kemudian “perkenalan itu” saya simpan rapat didalam diri saya. Saya kemudian, waktu demi waktu, mendambakan untuk segera berkunjung kesana. Walaupun tak secara resmi.

Disitu, di Imperial College London, saya cukup lama singgah. Melihat lingkungan kampus yang asri, indah, dan mengeluarkan aura. Ketika saya memasukinya, saya merasa bahwa semua bulu halus di dalam tangan saya muncul. Bulu kuduk saya berdiri. Saya merinding. Entah apa yang menyebabkannya. Mungkin karena saya telah memiliki persepsi, dan mungkin saja obsesi, sebelumnya. Atau karena saya kagum dan ingin sekali mengunjungi tempat itu.

Disitu, saya melihat dan menyaksikan mahasiswa-mahasiswi hilir mudik. Berjalan bergegas diantara koridor-koridor. Melewati satu demi satu ruang kelas. Ada yang menenteng tas. Ada yang menggunakan tas ransel. Ada pula yang membawa buku-buku (teks). Tetapi juga ada yang berjalan bergandengan tangan. Tentu, mereka yang bergandengan itu adalah mahasiswa dan mahasiswi. Saya menyaksikannya dengan seksama. Saya memperhatikan semua yang sedang berlangsung dihadapan saya itu. Saya ingin merasakan bagaimana denyut aura, tradisi, dan suasana akademik di sana. Tak ada satupun sudut yang tak saya perhatikan. Antusiasme saya itu bagaikan “bisul yang membuncah”. Ia keluar dengan begitu saja. Melelehkan semua energi yang ada didalamnya. Saya merasa senang, bahagia, dan berbinar-binar.

Saya telusuri kebanyakan lorong-lorong disekitar kampus itu. Nikmat rasanya. Sesekali saya mengambil gambar untuk dijadikan saksi bagi kehadiran saya. Sesekali juga saya berbincang dengan beberapa mahasiswa yang sedang berada disekitar kampus itu. Saya ingin merasakan “kebahagiaan mereka” belajar disebuah institusi yang cukup terkenal dan memiliki reputasi dunia.

Dalam perjalanan mengelilingi kampus itu, saya “menemukan dan bertemu” dengan Daron Acemoglu dan James A. Robinson. Mereka terpampang disebuah etalase rak buku. Saya bergegas untuk menghampirinya. Meraihnya, kemudian membaca muka buku itu. Membolak-balik bentuknya. Membaca daftar isinya. Saya terpikat, kemudian saya membelinya. Di situlah—untuk pertama kalinya saya bertemu dengan mereka. Saya mengenal mereka. Mereka masuk dan berada didalam bayangan pikiran dan perasaan. Tetapi saya belum berdialog dan berdiskusi intensif dengan mereka berdua. Saya masih memerlukan tempat yang tepat untuk berdiskusi dengan mereka.

Saya tenteng buku itu dengan baik-baik. Saya merasakan gemuruh di dada. Ingin sekali rasanya membuka lembar demi lembar buku itu, sambil membacanya. Tetapi, saya harus meneruskan perjalanan ke Royal Albert Hall. Saya ingin melihat dan mempelajari “Hall” terkenal itu. Salah satu tempat yang menjadi destinasi pariwisata.

Dari Imperial College London, saya berjalan kaki menelusuri Exhibition Road. Royal Albert Hall tak jauh letaknya dari kampus itu. Saya harus berjalan sekitar empat blok, melewati gugusan gedung-gedung dan kantor-kantor. Saya menikmati perjalanan itu. Sambil berjalan, saya berhenti sejenak, memperhatikan arsitektur gedung dan kantor. Melihat kehidupan disekitar area itu. Saya kemudian merasakan adanya “enggagement” di dalam diri saya. Rupanya, udara London pada hari itu turut membantu “kenikmatan” tersebut. Cuacanya baik dan suhunya cukup toleran terhadap kita yang datang dari daerah tropis.

Sesampainya didepan Royal Albert Hall, saya menyaksikan begitu banyak orang yang datang. Orang-orang telah lebih dahulu dari saya berada disitu. Jika dilihat dari profilenya, saya menduga mereka datang (lebih banyak) dari kawasan Asia. Satu dua orang saya melihat orang-orang berkulit gelap. Mungkin mereka datang dari kawasan Afrika. Begitu gumam saya. Yang saya saksikan, sedikit sekali orang yang berpostur tinggi besar, berkulit putih, dan tentu saja berwajah “sinetron televisi” di tanah air. Saya melihat mereka berlomba mencari tempat-tempat strategis untuk mematut diri di depan gedung itu, tentu dengan berbagai gaya dan beragam sudut pandang. Tingkah orang-orang itu sangat beragam. Ada yang lucu karena memang lucu. Ada yang cantik karena memang cantik. Ada yang gagah, karena memang gagah. Ada yang menarik, karena memang menarik. Tetapi, berbarengan dengan itu, ada pula yang “lucu” karena tak lucu atau nyeleneh. Ada yang cantik karena “make-up”. Ada yang ganteng, karena dilihat dari sudut pandang. Ada yang atraktif, karena “nora dan menyilaukan mata”. Saya menyaksikan semua tingkah dan polah itu dengan tersenyum dan terkekeh. Kadangkali, saya juga harus mengeleng-gelengkan kepala saya: “tak habis pikir”!

Tak lama saya berada di situ. Saya kemudian bergegas bergerak, mencari taksi untuk menuju Hyde Park. Sebuah lokasi di dalam taman yang sangat terkenal bagi para aktifis. Saya ingin menyaksikan orang-orang bebas berbicara. Di Hyde Park itu, setiap orang bisa menyampaikan pikiran dan gagasannya tanpa harus khawatir dengan sensor, apalagi represi. Walaupun lokasi Hyde Park—sesungguhnya—tak terlalu jauh dari Royal Albert Hall, saya tak pergi kesana dengan berjalan kaki. Saya lebih memilih naik taksi, dengan harapan bisa segera sampai. Di Hyde Park ini, saya ingin bernostalgia karena beberapa tahun sebelumnya saya juga duduk-duduk dikursi taman di situ. Pagi setelah sarapan, dan sore hari menjelang makan malam. Pernah satu kali saya datang ketika siang hari ketaman itu, hanya sekedar untuk membeli orang juice dari sebuah vending machine yang diletakan disamping sebuah kiosk.

Taksi menurunkan saya persis didepan Serpentine Road. Tepatnya, saya diturunkan diujung jalan itu. Kemudian saya menelusuri jalan itu untuk masuk kedalam taman. Saya berjalan dengan semangat. Ingin rasanya menemukan satu tempat duduk, dimana dari tempat itu, saya bisa menyaksikan orang-orang berpidato, sekaligus saya juga bisa “melakukan dialog dan berdiskusi” dengan Daron Acemoglu dan James A. Robinson tanpa terganggu dengan hiruk pikuk dan lalu lalang orang lain.

Sambil menikmati aktifitas teatrikal di Hyde Park, saya mulai berdiskusi dengan Daron dan Robinson. Saya “mendengarkan dan menyimak” pembicaraan mereka. Mereka berbicara dengan bahasa yang terang, lugas, dan argumentatif tentang berbagai hal. Dalam menyampaikai argumentasinya, mereka menyertakan berbagai sajian data dan fakta. Mereka bercerita, mulai dari soal kemiskinan, masalah demokrasi, soal pemerintahan negara, standar kehiduapan, korupsi, pendidikan, dan masalah-masalah sosial besar lainnya. Saya menikmati dialog dan diskusi imaginatif itu. Mungkin akan lebih baik saya sarikan beberapa hal menarik dari gagasan mereka di sini. Minimal untuk sekedar menambah pemahaman kita tentang apa-apa yang menjadi materi diskusi tersebut. Saya berharap, dengan informasi yang singkat itu, kita bisa merenungkan kembali tentang cara-cara kita bermasyarakat dan bernegara.

Menurut Daron dan Robinson, banyak negara mengalami kegagalan dan kebangkrutan. Rakyatnya sulit keluar dari kemiskinan. Negaranya tak bergerak maju. Kesejahteraan rakyatnya juga tak makin menaik. Akar penyebab negara yang tak maju-maju itu adalah kemiskinan. Kebanyakan rakyatnya berada didalam keadaan miskin. Pendapatan per-kapitanya sekitar hanya 12% dari rata-rata pendapatan penduduk Amerika. Pertanyaannya kemudian, mengapa negara bisa gagal atau bisa bangkrut? mengapa rakyat negara itu mereka begitu miskin? Hambatan-hambatan apa saja yang bisa menjadikan sebuah negara tak bisa maju dan rakyatnya tak bisa hidup lebih sejahtera?

Pertanyaan itu, kemudian dijawab oleh mereka. Mengapa disebuah negara rakyatnya tetap miskin, dan negaranya sulit tumbuh atau bahkan mengalami kegagalan? Jawabannya adalah karena mereka (negaranya, rakyatnya) terkena serangan korupsi. Pemerintahan diselenggrakan dengan cara-cara represif. Tindakan dan praktik pemerintahan bersifat represif. Pendidikan dinegara itu dilaksanakan dengan buruk. Rakyat hidup didalam sebuah sistem yang korup. Korupsi terjadi dimana-mana. Semua sektor kehidupan dimasuki oleh praktik culas korupsi, apakah itu dipemerintahan, di sektor bisnis dan swasta, dipelayanan publik. Sehingga masyarakat dinegara itu seolah melanggengkan rumus yang pernah terjadi di Tunia pada tahun 2011: rakyat hidup didalam gabungan prilaku “represi + absence of social justice + denial of channels for peaceful change”. Di dalam situasi ini, kekuatan politik negara menjadi dimonopoli oleh “a narrow elite”. Akibatnya, banyak sekali kebijakan negara yang bersifat “incorrect”, sehingga “poor countries are poor”. Struktur dasar masyarakat sedikit sekali mengalami perubahan. Dari tahun ke tahun, struktur sosial masyarakat tak beranjak meningkat. Tak ada perbaikan yang signifikan. Golongan masyarakat yang kaya semakin kaya, sementara masyarakat miskin tetap menjadi miskin, bahkan menjadi semakin miskin.

Didalam negara semacam itu, institusi-institusi politik dan publik mengalami ekstraksi (penghancuran, berkeping-keping). Ia mengalami ekstrasi karena dikelola oleh “a narrow elite”. Praktik politik menjadi sentralistik. Masyarakat bergerak sendiri, berjalan sendiri, berkerja sendiri, menentukan dirinya sendiri, tanpa (atau dengan sedikit) pertolongan pemerintahan negara. Akibatnya, praktik kegiatan ekonomi juga mengalami ekstrasi. Semua sektor kehidupan mengalami ekstrasi. Institusi-institusi tak berfungsi sesuai dengan fungsi dan harapannya. Setiap orang bisa melakukan apa saja. Setiap orang, setiap elite bisa bertindak dengan sesukanya. Mengubah regulasi berdasarkan kehendaknya sendiri atau berdasarkan kehendak kelompoknya (“a narrow elite”). Ketika hal-hal semacam itu terus berlangsung, maka—menurut Daron dan Robinson—yang berlaku adalah adigium Max Weber: “monopoly of legitimate violence”. Pemerintahan negara tak dapat lagi memerankan “enforcer of law and order”. Regulasi pelayanan publik dan ekonomi berlangsung dengan ekstraktif. “The people with suffer from the extractive economic institutions cannot hope for absolutist rulers to voluntarily change political institution and redistribute power in society”. Untuk keluar dari situasi ini—jika sebuah masyarakat ingin berkembang—maka yang harus dilakukan adalah “to force the elite to create more pluralistic institutions”.

Masyarakat yang kehidupannya lebih banyak ditentukan atau diatur oleh “extractive institution” akan sulit bertumbuh dan berkembang. Monopoli akan terjadi dimana-mana. Hampir semua sektor aktifitas kehidupan dimonopoli, disentralisasikan, sehingga sistem hukum, sistem tata tertib kehidupan manusia tak mendapatkan kepastian. “A Ruler monopolizing political power and in control of a centralized state can introduce some degree of law and order and a system of rules, and stimulate economic activity”. Bahkan pengaturan “extractive institution” terhadap kehidupan masyarakat, pada derajat tertentu, akan mendorong timbulnya konflik-konflik dalam menguasi sumber-sumber ekonomi. Akibat turunan dari situasi itu adalah “ conflict over scarce resources, income and power, translate into conflict over the rules of the game”. Orang berebutan untuk bisa mengubah aturan main. Orang ingin terlibat dalam penyusunan aturan main. Siapa yang menguasi pengaruh untuk mengatur regulasi maka merekalah yang akan menang—“a narrow elite”. Tentu kemudian, yang dirugikan adalah rakyat kebanyakan atau publik.

Berbeda sekali ketika masyarakat dikelola oleh institusi-institusi yang bersifat inklusif. Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat akan terjadi dengan cepat. Apalagi dibantu oleh pendayagunaan teknologi. Masyarakat yang dikelola berdasarkan prinsip-prinsip inklusif akan segera mengalami “economic trajectory”. Masyarakatnya akan hidup lebih sejahtera. Kemiskinan secara bertahap akan berkurang. Kehidupan politik lebih terbuka dan transparan. Hukum dan tata tertib ditegakan. Monopoli tak terjadi secara masif, bahkan cenderung disingkirkan. Tirani-tirani sosial, ekonomi dan politik berkurang. Masyarakat berkembang secara tahap demi tahap. Konflik antar masyarakat akan berkurang. Distribusi kekayaan akan lebih merata. Struktur sosial tak menjadi terlalu timpang. Setiap aktivitas ekonomi, politik, dan sosial dilandaskan kepada kepastian hukum. Bukan ditentukan oleh segelintir elite yang menginterpretasikan hukum berdasarkan interes dan kehendaknya.

Itulah “perjumpaan” saya untuk pertama kali dengan Daron Acemoglu dan James A. Robinson. Beberapa tahun lalu. Mereka memperkenalkan “Why Nations Fail, The Origins of Power, Prosperity and Poverty”. Saya baru bertemu lagi dengan mereka pada tahu 2019 yang lalu. Saya bertemu dengan mereka lagi ketika saya berada di Changi Airport Lounge, Singapore. Mereka mengajak saya untuk “berdiskusi imaginer” kembali, sambil menikmati secangkir kopi Latte di outlet Starbuck Coffee di Changi. Saya menyanggupinya. Saya masih mempunyai waktu jeda dua jam sebelum jadwal penerbangan pulang dari Singapore ke Jakarta. Namun, sebaiknya, pada kesempatan lain, beberapa catatan hasil diskusi tersebut saya akan sampaikan kepada anda semua. Sekali lagi untuk bahan kita melakukan pemutakhiran informasi yang masuk kedalam diri kita. Agar kita lebih inklusif dan tak terbelenggu dengan dan oleh “the narrow minds”. Semoga kesehatan dan kebahagiaan diberikan oleh Tuhan YME kepada kita semua.

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda