SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
PENDIDIKAN KARAKTER UNTUK MASA DEPAN KITA

“I dream of a time when character development is integral part of the essential core curricula in business schools—when who a leader is as a person matters just as much as what that person know how to do”; Fred Kiel (2015).

Salah satu subyek diskusi menarik, ketika orang masuk era baru revolusi industri adalah berkaitan dengan etika dan moral masyarakat. Pada faktanya, integrasi antar manusia menimbulkan beragam perubahan prilaku dan budaya. Setiap orang—sekarang ini—bebas menyatakan pendapatnya. Orang bisa melakukannya dengan terbuka berdasarkan latar perspektif dan budaya masing-masing. Apa yang dinyatakan oleh seseorang bisa dianggap wajar oleh “kelompok” orang itu. Pada saat yang sama, apa yang dinyatakan oleh orang itu dipandang sebagai sesuatu yang kurang etis, bahkan dapat dikategorikan kurang bermoral.

Sekarang ini, perdebatan dan diskursus tentang etika dan moralitas berkembang dimana-mana. Ada perdebatan yang mencuat terbuka ke publik. Ada pula perdebatan yang hanya dikalangan terbatas. Berlangsung diam-diam. Apalagi ditengarai bahwa perdebatan yang bersifat diam-diam—dalam momen penggerutuan kolektif— itu jumlah dan eskalasinya makin besar. Orang-orang tampaknya agak sungkan membahas etika dan moral secara terbuka. Orang acap memilih mendiskusikan masalah ini secara tertutup. Padahal, kita tahu bahwa salah satu implikasi logis dari globalisasi adalah keterbukaan. Setiap kita diberi ruang yang lebar untuk menyatakan sikapnya masing-masing. Tentu dari sudut pandang masing-masing. Dengan segala macam pemahaman tentang nilai, budaya, cara pandang mereka tentang dunia ini.

Perdebatan diam-diam itu terus berlangsung sampai sekarang. Orang-orang kemudian mempertanyakan berbagai hal tentang karakter. Lantas muncul pertanyaan, yang juga dilakukan secara diam-diam, di dalam gerutuan, apakah mereka-mereka yang menyatakan pendapatnya itu memahami tentang etika sosial? Apakah mereka tahu tentang moralitas? Atau mereka menyatakan pendapat dan sikapnya itu karena “memang begitu karakternya”? Dengan begitu, karakter menjadi pertanyaan besar di dalam kehidupan kemasyarakatan kita. Lantas kita bertanya lagi Lebih mendalam, apakah sesungguhnya yang kita maksudkan sebagai karakter itu?

Dalam ranah kehidupan sehari-hari, ada pandangan umum bahwa karakter itu sesuatu yang kita peroleh, kita bangun sepanjang kehidupan kita. Ia dideskripsikan sebagai seperangkat gagasan atau keyakinan-keyakinan yang dipegang oleh seseorang. Semua ide, gagasan, keyakinan ini, kemudian dirangkai oleh orang itu—detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, tahun demi tahun—kedalam sebuah kerangka acuan pribadi. Kemudian kerangka acuan itu dijadikan sebagai pertimbangan oleh seseorang untuk mengambil tindakan-tindakan (atau bersikap). Oleh karena itu, karakter dianggap sebagai faktor penting bagi seseorang di dalam proses pelaksanaan kehidupannya. Ia akan sangat berpengaruh kepada cara pandang seseorang terhadap dunia kehidupannya. Ia juga mencerminkan pilihan-pilihan bagaimana (setiap) orang mengambil jalan kehidupannya.

Dilain pihak, terdapat juga pandangan bahwa karakter itu berkait langsung dengan moral dan nilai-nilai. Jika kita membicarakan karakter, maka sesungguhnya kita sedang mendiskursuskan nilai-nilai yang berkembang ditengah masyarakat. Bahkan kita juga sedang membicarakan moralitas masyarakat. Apa yang tampak dipermukaan interkasi sosial masyarakat, itulah nilai yang berkembang ditengah masyarakat. Dan itu pulalah yang menjadi “moral dominan” masyarakat. Dengan begitu, orang menyatakan bahwa itulah gambaran karakter kolektif yang dimiliki oleh sebuah masyarakat. Nilai dan moral itu dianggap sebagai representasi dari nilai dan moral yang ada di dalam diri kita. Karena kita merupakan bagian dari masyarakat itu.

Kemudian, kita lantas dapat mengidentifikasi, apa sesungguhnya yang dimaksudkan karakter oleh (pandangan) masyarakat. Masyarakat menyatakan bahwa yang termasuk didalam “rumpun karakter” itu adalah nilai-nilai yang harus dimiliki atau dikuasi oleh seseorang seperti ini: jujur, (dapat) dipercaya, loyal (tak “berkaki banyak”), (mempunyai) integritas, adil (kewajaran), (saling) memaafkan, (memiliki perasaan) kasihan, bekerjasama, tanggung jawab, kontrol diri, emphati (sungguh-sungguh), dan (memiliki) keyakinan spiritual. Itulah seperangkat nilai yang dianggap luhur oleh masyarakat umum. Masyarakat berpikiran bahwa semua karakter dan nilai di atas harus bisa operasional didalam praktik kehidupan kita. Dengan begitu—jika semua anggota masyarakat mempraktikan nilai-nilai tersebut—(praktik kehidupan) masyarakat bisa tumbuh dan berkembang secara sehat. Nilai-nilai itulah—dalam pandangan masyarakat, termasuk kita semua—yang senantiasa harus dipelihara, dirawat, dan dididikan kepada generasi-generasi baru secara turun menurun.

Nilai-nilai itu harus terus dipelihara karena ia terbentuk dari internalisasi yang mendalam didalam diri kita (masyarakat). Nilai yang bersumber dari penghayatan keagamaan kita. Nilai yang bersumber dari warisan kultural adiluhung masyarakat kita. Nilai yang bersumber dari prinsip-prinsip moral yang telah lama berkembang serta diyakini ketinggian kedudukannya untuk memelihara keseimbangan kehidupan ditengah masyarakat. Itulah kemudian, orang sering menyatakan bahwa kecerdasan moral yang dimiliki oleh seseorang menjadi salah satu kunci terpeliharanya hubungan-hubungan sosial masyarakat, termasuk terpeliharanya tertib (interaksi) kehidupan ditengah masyarakat.

Jika demikian pandangan (umum) masyarakat, lantas apa sesungguh yang kita maksudkan dengan karakter tersebut? Karakter dapat kita definisikan sebagai sebuah keunikan (yang melekat pada diri seseorang), yang dimiliki oleh seorang individu sebagai hasil (proses) internalisasi. Internalisasi yang mengkombinasikan (antara) kepercayaan, keyakinan dengan “moral habit”yang dimiliki orang itu. Kemudian, hasil internalisasi ini menjadi dasar atau motif atau pertimbangan seseorang untuk bersikap ketika melakukan relasi dengan orang lain. Dengan bahasa yang lebih sederhana—dengan meminjam deskripsi penjelasan yang diungkapkan oleh Fred Kiel (2015)—dinyatakan bahwa “Our character is defined by our behavior—the way we treat other people is our character in action”.

Jika kita perhatikan definisi di atas, maka kita bisa mengatakan bahwa karakter itu berada didalam rentang sebuah pendulum. Pendulum yang bergerak dari sisi “immoral”; ketika orang berprilaku merusak, membahayakan (kesejahteraan) orang lain, kepada sisi “moral”; ketika orang berusaha memperkuat kesejahteraan kehidupannya. Dengan kata lain, pendulum itu bergerak terus menerus kearah kedua sisi “moral” dan “immoral”, dan sebaliknya. Karakter seseorang itu ditunjukan (direpresentasikan) oleh sebuah “titik berhenti”, sebuah momen jeda, yang berada diantara pergumulan intensif sisi “moral” dan sisi “immoral”. Itulah moralitas dan nilai yang kita anut. Itulah posisi karakter kita berada.

Di dalam pergaulan dunia yang terbuka seperti sekarang ini masalah karakter`tetap menjadi krusial. Selalu saja terdapat pertanyaan tentang karakter mana yang paling penting untuk dimiliki (dikuasai) oleh seseorang, jika orang itu ingin tetap “survive” di dalam menjalankan kehidupannya. Nilai dan moral karakter mana yang perlu kita didikan (kita ajarkan) kepada generasi penerus, agar mereka bisa “memenangkan” kompetisi kehidupan ditingkat (dunia) global? Untuk menjawab ini, saya ingin mengajak kita semua untuk menelusuri (dan memperhatikan) hasil beberapa penelitian oleh para ilmuan prilaku atau para pakar manajemen bisnis. Berdasarkan hasil penelitian mereka, mereka mengatakan bahwa karakter yang dibutuhkan (karakter utama) agar seseorang bisa hidup “survive” (baik dalam membangun karir, bermasyarakat, berbisnis)—dari sekian banyak hasil indentifikasi nilai-nilai seperti yang telah disebutkan sebelumnya di atas—adalah “Integrity, Responsibility, Forgiveness, and Compassion”. Itulah “empat besar” karakter yang harus dikuasi dan menjadi rujukan oleh seseorang. Keempat karakter itu harus tercermin dari sikap hidup kita sehari-hari. Mereka harus melekat dalam kebiasaan kita. Mereka menjadi bahagian yang saling terkait satu sama lain didalam diri kita.

Jika keempat karakter utama tersebut kita klasifikasikan, berdasarkan hasil penelitian, dua karakter dapat dikategorikan sebagai “area” dominasi (kendali) intelek. Keputusannya ada didalam dan dikendalikan oleh “kepala kita”. Ia dipertimbangkan didalam pikiran kita. Dua karakter yang didominasi oleh intelek (kepala) kita itu adalah “Integrity” (integritas, kemampuan dan sensitifitas kita dalam bertindak atas dasar prinsip-prinsip, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan, termasuk mampu menjaga kepercayaan) dan “Responsibility” (tanggungjawab, konsen kita terhadap kepentingan bersama). Sedangkan dua karakter lainnya, yakni “Forgiveness” (kemampuan untuk saling memaafkan) dan “Compassion” (kemampuan memberi rasa kasihan) berada dibawah kendali emosi kita. Mereka ada dan ditentukan oleh hati nurani kita.

Itulah keempat karakter utama yang diprediksikan sebagai karakter universal. Setiap orang harus memiliki karakter universal tersebut, jika orang itu ingin berhasil dalam menjalankan kehidupannya. Keempat kareakter itu—kemudian disebut oleh Adam Smith (2013) sebagai “Universal Moral principles”, yang mau tak mau harus kita miliki. Kita harus memiliki keterampilan dalam mendayagunakan keeempat prinsip moral universal itu. Tanpa kemampuan dan keterampilan yang baik dalam mengelola keempat karakter di atas, kita dianggap tak kompatibel dengan tuntutan standar prilaku dimasa-masa mendatang. Sebab keempat karakter di atas dinyatakan sebagai “the high standard of behavior”, kata Adam Smith sekali lagi.

Oleh karena itu, salah satu jalan yang penting yang bisa kita lakukan adalah senantiasa menjaga konektifitas antara “the head and the heart”. Konektifitas yang intensif dan berkelanjutan dari keduanya akan melukiskan gambaran sikap-prilaku seseorang dipermukaan praktik kehidupan (nyata). Dengan begitu kita bisa melihat, apakah sikap yang dinyatakan oleh seseorang itu atas dasar “reflex behavior”. Orang datang memberi respon dengan begitu saja, tanpa sebuah proses dari hasil dialog antara “the head and the heart”; atau memang orang menyatakan respon sebagai perwujudan dari hasil koneksi intensif dan mendalam antara “kepala dan (emosi) hati nurani”?

Adalah kewajiban kita semua untuk mempersiapkan diri. Kita harus menguasi keempat “the high standard behavior” seperti di atas. Kemampuan dan keterampilan dalam mempraktikan keempat karakter utama di atas merupakan sebuah keharusan. Karakter itu harus ada didalam diri manusia Indonesia. Harus ada didalam diri anak-anak kita. Harus tersemai didalam kehidupan masyarakat kita. Adalah tugas kita—para kaum intelektual, para elite masyarakat, kaum terdidik, kelas menengah, para tokoh masyarakat—untuk mempersiapkan masyarakat kita (anak didik, masyarakat awam, golongan generasi baru) untuk memiliki dan menguasai keempat karakter utama tersebut di atas. Dengan begitu, kita secara bersama-sama dapat memasuki era persaingan global sekarang ini dengan lebih siap, lebih kuat, dan lebih bermartabat. Kita harus mempersiapkan masyarakat kita memasuki era modern, terbuka, inklusif dengan dibarengi oleh kemampuan diri untuk bisa menjadi warga dunia. Tentu dengan kemampuan adaptasi terhadap tuntutan peradaban keadaban dunia. Dengan persiapan seperti itu, kita berharap bahwa kita akan turut “memenangkan” kompetisi terbuka ini, termasuk kompetisi tentang “referensi prilaku berkedaban” di dalam praktik kehidupan yang bersifat global.

EFEK INTERAKTIF
22 Mei 2020

EFEK INTERAKTIF

Kerinduan Rasioanal
22 Mei 2020

Kerinduan Rasioanal

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda