SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
20
Jun 2020
0
Persepsi

Dalam sejarah ilmu pengetahuan diskusi tentang persepsi tak pernah berakhir hingga kini. Ditilik dari sudut filsafat, diskusi itu membawa kita pada dua tensi atau “ketegangan” gagasan. Pertama, gagasan yang melihat bahwa obyek fisik yang dipersepsikan adalah obyek yang hadir atau dipresentasikan kepada kita, kemudian obyek fisik itu masuk kepada pikiran kita. Lantas obyek fisik itu menjadi pengalaman kita. Kita menangkap obyek fisik yang datang kepada kita atas dasar persepsi pikiran kita sesuai dengan “fakta obyek fisiknya”, apa adanya.

Gagasan pertama ini menunjuk kepada adanya “asimilasi persepsi” terhadap pikiran kita. Persepsi kita baru bisa dilakukan jika ada “representational content”. Dengan begitu, “representational content” itu menjadi referensi kepada “mind-independent” yang ada didalam diri kita untuk mempersepsikan obyek fisik. Di sini tak boleh ada persepsi tanpa kehadiran obyek fisik. Karena obyek fisik itu adalah konten yang harus hadir didalam pikiran kita, secara nyata dan faktual. Lantas selanjutnya, Kita berpikir dan mempersepsikan sesuatu atas dasar obyek fisik atau fakta-faktanya, bukan oleh “commonsense”. Dalam bahasa filsafat ilmu dinyatakan bahwa “kita tahu bahwa memang kita tahu”. Bukan “kita tahu bahwa kira-kira kita tahu”.

Kedua, gagasan yang dilandaskan kepada adanya obyek fisik yang sama, tetapi telah ada gambaran di dalam “mind-independent”, dimana perasaan dan pikiran kita secara bebas menpersepsikan pengalaman dan penampakan obyek fisik tersebut. Kemudian obyek fisik dipersepsikan secara independen oleh pikiran dan perasaan kita. Dalam keadaan ini, kita mempersepsikan obyek fisik secara bebas, walaupun mungkin gambaran obyek fisik tak sepenuhnya hadir dihadapan kita (presented to us). Kita “memikirkan” tentang obyek fisik itu. Kita mengolahnya. Kita mempersepsikannya. Kita meramunya sendiri. Walaupun kita tak mengenal secara utuh tentang obyek fisik yang datang kepada kita.

Gagasan kedua ini mengungkapkan bahwa “our commonsense world-view” mengambil alih obyek fisik untuk secara indikatif dikonstitutifkan. Kita menangkap pemahaman terhadap obyek fisik berdasarkan persepsi atau cara pandang atau cara melihat yang bersifat “commonsense”. Pengetahuan dan persepsi yang disampaikan kepada khalayak (publik) adalah persepsi “commonsense” terhadap obyek fisik atau fakta-fakta. Kita mengolah “pengetahuan tentang obyek fisik” tanpa pernah kita melihat obyek fisiknya. Kita, kemudian melakukan “pengira-ngira-an”. Pengiraan semacam ini dianggap oleh kita menjadi “itulah persepsi yang benar”.

Perdebatan tentang persepsi seperti di atas masih terus berlangsung hingga kini. Perdebatan ini tak hanya terjadi ditingkat orang yang telah berpendidikan dan memiliki “akal sehat” tinggi, tetapi juga terjadi ditingkat orang awam. Namun, didalam masyarakat umum, persepsi yang tak memerlukan kehadiran obyek fisik tampaknya lebih dominan. Orang mudah memberikan penilaian dengan cara kira-kira. Orang enggan (tak mau) untuk memastikan “representational content”.

Dalam dunia yang semakin terbuka semacam ini, masalah persepsi mangalami “serious difficulties”, terutama untuk mengakomodasikan “datum”, fakta, konten, atau “physical objects”. Itu sebabnya, kita menyaksikan begitu banyak informasi yang tak berlandaskan data. Tak berlandaskan fakta. Tak berlandaskan obyek fisik. Orang berlomba menyatakan sesuatu hanya karena orang tak ingin ketinggalan untuk berkomentar. Orang menyatakan persepsi atas dasar bahwa ia “tak ingin ketinggalan” untuk berkomentar, walaupun orang itu tak mengenal dan tak mengetahui obyek fisiknya. Itulah dunia persepsi yang sedang kita hadapi sekarang ini.

Dalam situasi semacam di atas, masyarakat akan disajikan oleh pasokan informasi dari hasil persepsi yang tak berdasarkan fakta-fakta. Apa yang muncul kepermukaan adalah apa yang kompatibel dengan pikiran, perasaan, selera, atau pengetahuan terbatasnya. Persepsi semacam itu, tentu dilakukan dengan mengabaikan obyek fisik, fakta, konten, dan data.

Jika hal tersebut terus berlangsung, masyarakat harus kita lengkapi dengan sebuah literasi baru, yakni literasi untuk bisa membaca data, fakta, konten, dan obyek fisik. Tanpa keterampilan literasi baru itu, dunia kehidupan kita akan hiruk pikuk terus. Kehidupan masyarakat akan selalu tampak kurang cerdas. Padahal kita tahu bahwa salah satu tujuan kita bermasyarakat dan bernegara itu adalah bahwa kita bersama-sama harus berusaha “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tujuannya adalah dengan “cara” berkehidupan yang cerdas, diharapkan masyarakat kita—intelektual, orang terdidik, awam, tokoh, panutan—akan hidup berkeadaban dan lebih sejahtera. Sejahtera baik lahirnya, maupun sejahtera bathinnya. Itulah sesungguhnya masyarakat yang sehat. Sehat jasmaninya, sehat pikirannya, sehat perasaannya, sehat hati nuraninya, sehat lahir dan bathin!

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda