SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
PRAKTIK BERETIKA DALAM MASYARAKAT

Diskursus etika belakangan ini menjadi seksi. Ada beberapa alasan mengapa etika menjadi perhatian? Pertama, banyak sekali orang, sekarang ini, berprilaku dan bersikap tanpa menghiraukan nilai-nilai yang berkembang ditengah masyarakat. Orang bisa saja, dengan “tanpa merasa berdosa”, menyatakan pikiran dan sikapnya dengan kalimat yang kasar, vulgar, bahkan nyeleneh. Mereka menyatakan sikap dengan sembrono. Disertai oleh tata laku yang tak lazim. Orang sangat bebas dalam menyatakan sikapnya.

Kedua, orang menganggap dirinya mempunyai hak untuk menyatakan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya. Ia bisa mengungkapkan sikap sesuai aspirasi dan sudut pandangnya sendiri. Mereka bersikap dengan pemahaman terhadap nilai dan budaya yang dianutnya. Orang tak perlu menghiraukan perasaan orang lain. Orang merasa independen dalam mengungkapkan semua aspirasi dan perasaannya. Oleh karena, tak terlalu aneh jika komplain tentang etika marak, berlomba-lomba muncul kepermukaan. Banyak orang yang merasa ada sesuatu yang berubah. Ada sesuatu yang aneh, yang berkembang ditengah masyarakat kita. Pertanyaan muncul, mengapa masyarakat kita mengalami perubahan prilaku seperti itu? Adakah sesuatu yang salah? Mengapa mereka acapkali tak menghiraukan tata laku dan nilai-nilai luhur yang telah lama terpelihara di dalam masyarakat? Apakah mereka itu memiliki pemahaman yang cukup tentang etika bermasyarakat? Atau memang mereka belum bisa membedakan, mana prilaku yang berteika, dan mana pula prilaku yang nir-etika? Atau mungkin saja, mereka itu belum memahami dengan apa yang dimaksudkan sebagai etika?

Dari sudut etimologi, Etika bisa didefinisikan sebagai seperangkat nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, dan praktik-praktik moral substantif, yang membedakan mana satu tindakan dikatakan baik atau benar, serta mana pula satu tindakan dikatakan kurang baik atau salah. Ia membicarakan “about right and wrong”. Ia memperhatikan bagaimana suatu tindakan seseorang itu dikatakan beretika, dan bagaimana pula suatu tindakan itu dinyatakan kurang beretika. Oleh karena itu, diskursus etika berkaitan dengan penilaian suatu tindakan berdasarkan standar-standar tertentu, baik yang berlaku di tengah kehidupan masyarakat, maupun yang diakui secara universal.

Jika kita perhatikan berbagai teori yang membahas etika, kita akan mengenal apa yang disebut sebagai “Thick and Thin Morality” (Michael Walzer, 1994). “Thick Morality” (moralitas yang lebih kental atau tebal) menunjuk kepada nilai-nilai moral, keyakinan, dan praktik-praktik (baik) di dalam masyarakat. Ia dibangun dari tradisi-tradisi yang berkembang dari tahun ke tahun di tengah masyarakat. Ia telah terlegitimasikan, diakui, dihargai, dan dijadikan “ukuran-ukuran kebaikan” didalam praktik kehidupan masyarakat. Ia secara historis telah menjadi bagian dari perkembangan masyarakatnya, sehingga ia (akan) menjadi identitas masyarakat tersebut. Dengan kata lain, secara definisi, “thick Morality” berhubungan langsung dengan konteks nyata (praktik kehidupan masyarakat). Sedangkan “thin morality” (moralitas yang lebih tipis, atau lebih encer, atau lebih renggang) menunjuk kepada nilai-nilai moral, keyakinan-keyakinan, kepercayaan-kepercayaan, dan praktik-praktik kehidupan yang memiliki resonansi kepada seluruh budaya manusia. Ia didorong oleh pengakuan (legitimasi) prinsip-prinsip moral universal. Oleh karena itu, “thin morality” berhubungan dengan apa yang disebut sebagai “transcends context” (konteks transendental, melebihi yang nyata). Nilai moral yang berlaku umum, universal, diacu oleh semua masyarakat yang hidup dimanapun mereka berada. Dalam bahasa populer, perbedaan antara “thick morality” dengan “thin morality” dilukiskan sebagai “the distinction between communitarian and cosmopolitan version of international ethics” (Dower, 2007). Dengan kata lain, “thick morality” itu sama atau mirip dengan “communitarian ethics”; sedangkan “thin morality” itu sama atau mirip dengan “cosmopolitan ethics”.

Oleh sebab itu, kita sering mendengar bahwa diskursus etika cenderung dikaitkan dengan (pemahaman dan pengahayatan tentang) budaya yang dimiliki oleh seseorang. Orang akan memiliki etika kehidupan yang baik, ketika orang itu mempraktikan nilai-nilai budaya luhur yang berlaku ditengah masyarakat tersebut. Orang memperhatikan dengan seksama tentang tradisi-tradisi yang berkembang dan dianut didalam praktik berkehidupan masyarakat. Orang tahu mana yang patut, mana yang kurang patut. Mana yang menjadi tanggungjawabnya, mana yang bukan menjadi tanggungjawabnya. Mana yang menjadi hak-haknya, mana yang bukan menjadi hak-haknya. Dengan kata lain, orang yang mempunyai etika di dalam praktik kehidupan adalah mereka yang bisa membedakan dengan jernih antara hak dan tanggung-jawab. Bisa membedakan mana yang pantas dan mana yang tak pantas. Bisa membedakan mana yang benar, mana pula yang keliru, dan seterusnya.

Jika kita lihat pandangan Imanuel Kant, dan Jeromy Bentham dapat dikatakan bahwa “communitarianism” didasarkan kepada “the ethical valuation of community”. Ia merupakan nilai-nilai yang berkembang di dalam budaya dan tradisi sebuah masyarakat. Sedangkan “cosmopolitanism” berakar kepada nilai-nilai yang berkembang—dan dianggap luhur—didalam masyarakat universal. etika yang dipraktikan disemua belahan dunia. Ia dipahami oleh masyarakat internasional. Ia berlaku lintas negara, lintas identitas. Ia menjadi—boleh saya sebutkan sebagai—“international ethics”. Mengapa demikian, karena nilai-nilainya tak hanya berlaku terbatas di dalam sebuah masyarakat atau disebuah negara saja, tetapi juga diakui, dihormati, dan berlaku secara universal, disemua negara. Ia menjadi “the explicit universalism”.

Dalam praktik kehidupan, seringkali kita melihat bahwa orang sulit sekali membedakan kedua jenis nilai etika seperti di atas. Orang-orang acap bersikap tanpa memahami kedua jenis nilai etika tersebut. Kita selalu saja menyaksikan bahwa orang menyatakan sikap tanpa pernah memperhatikan dan mempertimbangankan etika. Sehingga bagi mereka yang telah lama berpegang teguh kepada nilai-nilai etika, sikap yang nyeleneh (melanggar etika) menjadi sesuatu yang dipandang sebagai anomali. Orang-orang lantas menyatakan bahwa sikap-sikap yang tak beretika itu merupakan cerminan dari kurangnya pemahaman tentang keadaban publik. Orang seperti itu dilihat sebagai “orang yang baru turun” dari gunung atau dari hutan belantara.

Didalam praktik kehidupan sehari-hari, kita juga menyaksikan peristiwa-peristiwa semacam itu. Kita sering “mengeryitkan dahi” membaca beragam komentar yang menggunakan “bahasa gunung atau bahasa hutan belantara”. Sementara itu, sebagian dari masyarakat juga menganggap bahwa penggunaan bahasa yang tak santun, vulgar, tak senonoh, merupakan lukisan dari kedalaman penghayatan nilai (etika) budaya yang berkembang di dalam masyarakat. Padahal, budaya mempunyai peran signifikan untuk memelihara etika sebuah masyarakat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berusaha agar “ethical order” menjadi pegangan didalam interaksi sesama. “Ethical order” seharusnya menjadi standard-standard yang menjadi ukuran keluhuran kewargaan publik.

Memang, situasi dan kondisi masyarakat yang terbuka semacam ini tak bisa menyisakan sesuatu hal. Keterbukaan dianggap sebuah keniscayaan. Hanya saja kesadaran akan keterbukaan harus disertai juga kesadaran akan “ketertutupan”. Sebab tak akan ada keterbukaan tanpa ketertutupan. Tak akan ada kebenaran tanpa kekeliruan. Semuanya berlangsung secara berpasangan. Tinggal kita yang melakukan praktik kehidupan. Pilihan pendulum ada pada diri kita sendiri. Apakah kita akan terbuka secara “buka-bukaan” dengan tak lagi mengharuskan penghormatan kepada etika sosial kita. Atau kita melakukan keterbukaan dengan tetap memperhatikan koridor etika, baik yang bersifat “thick morality”, maupun yang bersifat “thin morality”. disitulah sesungguhnya ujian kita. Ujian yang terletak dititik equilibrium pendulum antara kebebasan yang independen dengan kebebasan yang terkendali oleh etika. Lantas kita harus selalu bertanya, dimanakah letaknya fatsun? Mudah-mudahan, kehidupan kita akan lebih baik dan lebih mensejahterakan. Sejahtera lahir dan sejahtera bathin kita.

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda