SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
REALITAS PERSONAL

Hari ini, saya “bertemu” lagi dengan Deepak Chopra (2019). Saya asyik menemaninya. “Berdialog imaginer” dengan intens tentang bagaimana usaha setiap orang meningkatkan (mutu) kehidupannya. Bahwa hampir setiap orang ingin mendapatkan standar kehidupan yang baik. Orang-orang berusaha untuk mencapai standar kehidupan semacam itu. Orang, lantas berlomba, dengan mengupayakan segala macam cara, menghimpun semua potensi yang dimiliki. Tapi, orang-orang acapkali lupa atau abai terhadap peningkatan “their personal reality”.

“The personal reality”, atau boleh juga disebut sebagai realitas pribadi difahami sebagai “segala sesuatu yang kita percaya. Segala sesuatu yang kita rasakan. Segala memori unik yang kita miliki. Bahkan segala macam pengalaman hidup yang pernah kita alami, serta pengalaman relasi-relasi yang pernah kita lakukan. Pendek kata, realitas pribadi itu merupakan gambaran utuh diri kita terhadap apapun yang bisa membangun kehidupan kita. Ia menjadi pengetahuan, pemahaman tentang “what we really are”.

“What we really are” itu bukanlah pertanyaan yang mudah untuk hanya sekedar kita jawab. Saya ingin mendeskripsikan beberapa hal yang penting—berdasarkan hasil “dialog pertemuan imaginer” saya dengan Deepak Chopra—untuk sekedar memberi bahan refleksi bagi kita semua tentang apa yang ada dibalik kehidupan kita sebagai manusia.

Menurut Chopra, berjuta-juta orang berjuang untuk meningkat (mutu) kehidupan mereka. Tetapi mereka melupakan realitas personalnya. Mereka menganggap bahwa “realitas kehidupan” itu adalah sesuatu yang sederhana. Namun demikian, sesungguhnya “realitas kehidupan” itu tak sesederhana seperti apa yang kita bayangkan. Dunia kehidupan itu amat berbeda dengan realitas kehidupan. Apa yang dipikirkan sekarang akan berbeda dengan kenyataannya. Apa yang dirasakan belum tentu sama dengan apa yang kita harapkan. Apa yang kita anggap optimistik sekarang belum tentu itulah yang menjadi kenyataan. Sungguh, dunia kehidupan berbeda dengan realitas kehidupan. Padahal keduanya itu turut berkontribusi di dalam pembentukan “realitas personal” kita.

Kalau kita perhatikan, kebanyakan kita berada dalam keadaan “you are a mystery to yourself”. Sebab setiap orang misterius terhadap dirinya sendiri. Apa yang dilakukan oleh orang acapkali mengikuti saja dengan apa yang rutin dia lakukan. Orang berharap, setiap langkah dan pekerjaannya dapat dilakukan dengan lazim, seperti biasanya. Orang tak berharap bahwa semua kegiatannya, semua tindakannya, atau semua langkahnya mengalami kekeliruan. Atau bahkan dapat menimbulkan horor. Orang ingin berjalan dengan rutin. Biasa-biasa saja. Orang berusaha menghindari kesedihan, kerusakan, kebangkrutan, ataupun apapun yang merugikan dirinya. Orang sulit sekali untuk bergeser. Mencoba sesuatu yang lain, yang tak bersifat rutin. Orang tak ingin cemas, apalagi mengambil risiko untuk jatuh kedalam situasi tak menyenangkan yang lebih dalam. Orang khawatir melakukan “moving forward”. Kalau-kalau dengan “moving forward” itu akan menimbulkan masalah baru.

Sementara itu, didalam kesempatan yang sama, banyak orang yang ingin berubah. Ada dorongan untuk hidup lebih baik. Ada keinginan untuk selalu meningkatkan kualitas hidup. Mereka ingin “improve the lives”, dengan begitu mereka juga dapat “to improve their reality”. Keadaan seperti ini menimbulkan kegamangan. Orang digiring kepada kebingungan, sehingga meletakan “Reality is to confusing”. Realitas personal yang ada di dalam diri orang itu menjadi misterius. Ia bergerak dari optimisme sampai kepada pesimisme, dan sebaliknya. Ia, kemudian, menjadi sesuatu yang misterius di dalam diri kita sendiri. Orang kemudian mengalami ke-ragu-an, was-was, kegalauan, untuk bergerak.

Kondisi seperti itu menimbulkan tabir yang menghalangi tindakan-tindakan yang bersifat “beyond everyday experience”. Padahal kita tahu bahwa pengalaman-pengalaman (baru) sangat penting untuk menggerakan seseorang. Pengalaman (baru) itu mendorong agar orang bisa “move forward”. Ia memberi landasan bagi seseorang untuk berkreasi. Menyemangati orang untuk bertindak dengan cara-cara yang tak biasa. Bahkan mendorong orang untuk berpikir yang melampaui rutinitas. Boleh dikata bahwa ia merupakan “the key was to go beyond the everyday”; Kata Abraham Maslow.

Oleh karena itu—menurut Deepak Chopra—penting sekali bagi kita untuk “to discover who you really are”. Kalau kita ingin sampai kepada penemuan “who you really are”, maka yang harus kita lakukan adalah “you must go beyond who you think you are”. Dengan begitu, ketika kita sedang berhadapan, misalnya dengan kedamaian, maka kita harus tahu apa yang ada dibalik (rasa takut) ketakutan. Kalau kita merasa kurang dicintai, kita harus bisa melihat apa yang ada dibalik “dicintai atau mencintai”. Pengalaman-pengalaman semacam itu bersifat datang dan pergi. Sekali waktu ia hadir intensif di dalam diri kita. Kali yang lain ia hilang (redup) dari dalam diri kita. Itu sebabnya, kita harus cekatan dalam memahami “the beyond”. Kita harus selalu berpikir “beyond the reality”. Karena seringkali, apa yang ada dibalik realitas itu adalah itulah yang benar. Itulah yang ajeg. Itulah yang tak bersifat misterius. Dalam bahasa Deepak Chopra disebut sebagai “Metahuman”. Kita berpikir, merenung, melakukan refleksi tentang apa-apa yang ada dibalik realitas (kehidupan). Dengan begitu, kita akan “to becoming metahuman”. Kita melakukan perubahan-perubahan atau pergeseran-pergeseran identitas yang kompatibel dengan perkembangan (tingkat) kehidupan.

Kalau kita bisa mentransformasikan diri dengan cara menjadi “metahuman”, maka kita tak akan lagi memperlakukan (sekedar) “simple happy when they are happy, and angry when they are angry”. Kita harus melihat semua itu dengan apa yang ada dibaliknya: “you see beyond”! Inilah ciri dari kemampuan kita menggunakan radar kesadaran yang kita miliki untuk melihat segala sesuatu yang ada dihadapan kita. Kita akan selalu melihat dengan jernih segala misteri yang ada dibalik kehidupan kita. Dengan begitu, kita juga akan tahu “The mystery of life—and the mystery of myself as a human being”. Inilah sesungguhnya salah satu “obat” kehidupan dan berkehidupan.

Saya menikmati diskusi dan dialog imaginer dengan Deepak Chopra seperti saya deskripsikan secara bebas di atas. Saya menjadi lebih faham dan juga menyadari bahwa fakta-fakta atau data-data kehidupan yang tampil kehadapan kita, tak melulu menjadi realitas konkrit. Fakta dan data tersebut—pada faktanya—mengandung sesuatu yang ada dibaliknya. Oleh karena itu, saya kira, kita tak bisa lagi berpegang kepada—tanpa reserve—adigium “what you see is what you get”. Karena dibalik itu ada argumen. Ada pengetahuan. Ada nilai. Ada alasan. Dan tentu saja ada skeptisisme: Ada “Truth with a capital T”. Itulah kebenaran yang benar benar, benar. Bukan kebenaran yang lain. Semoga, mulai sekarang, kita bisa membiasakan diri berpikir,bertindak, bersikap melalui “your infinite potential: metahuman”. Semoga kehidupan kita dimasa depan semakin sehat dan sejahtera.

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda