SEKILAS INFO
15-06-2021
  • 1 tahun yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 1 tahun yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 1 tahun yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
The Narrow Corridor: Celah pemelihara Hubungan Negara dan Masayarakat

Lagi-lagi Daron Acemoglu dan James A. Robinson berbicara lugas. Kalau kemarin mereka bercerita tentang bagaimana sebuah negara mengalami kegagalan dan institusi-institusi mengalami (proses) ekstraksi. Kali ini, mereka mendiskusikan tentang kebebasan, kemerdekaan: “Liberty”. Saya berusaha memperhatikan narasinya. Bicaranya sungguh imaginatif. Menggelorakan eksplorasi data dan sejarah. Dukungan data dan fakta diperkaya. Saya terpaksa harus dengan intens mengikuti narasinya. Saya ingin memastikan apakah ide dan gagasannya, sekarang ini, telah bergeser dari gagasan sebelumnya? Atau mereka masih “melanjutkan” analisis sebelumnya dengan lebih dalam, menusuk, sampai kepada esensi eksistensial kita sebagai manusia.

Saya menikmati “diskusi lanjutan imaginer” itu. Saya melakukannya tanpa harus memperhatikan lalu lalang orang di depan outlet Starbuck Changi Airport Lounge. Saya sengaja mengambil tempat duduk agak di pojok, tetapi nyaman untuk berdiskusi. Yang saya pertimbangkan hanya akses saya untuk bisa melihat papan elektronik jadwal (penerbangan) keberangkatan pulang ke berbagai kota—khususnya ke Jakarta— yang dipasang disekitar “warung kopi” itu. Setelah semua pasti, dan setelah saya merasa nyaman, Saya kemudian mulai mendalalami “pembicaraan imaginer” tersebut, sambil sesekali meneguk kopi Latte yang masih hangat, serta mengeluarkan aroma khasnya.

Daron dan Robinson memulai diskusi dengan mengajukan pertanyaan “berat” seperti ini: “how and why human societies have achieved or failed to achieve? Sebuah pertanyaan yang meneroka lebih jauh tentang kesejahteraan masyarakat. Bahkan penerokaannya bisa sampai kepada soal-soal fundamental yang berkait dengan kemerdekaan orang atau kebebasan orang untuk “menentukan nasib masa depannya sendiri”. Kemudian mereka bertanya lagi, mengapa orang-orang acap kali tak memiliki kemerdekaan dalam menentukan nasibnya? Pertanyaan itu, kemudian mereka jawab dengan meminjam pernyataan seorang filosof Inggris—John Lock—bahwa “people have liberty when they have perfect freedom to order their action and dispose of their possession and persons, as they think fit…”. Oleh karena itu, kemerdekaan, kebebasan—liberty—merupakan aspirasi dasar, aspirasi fundamental bagi seluruh umat manusia. Tak boleh ada seorangpun dari kita yang “mengganggu”, mencoba mengotak-atik aspirasi dasar ini, terutama yang terkait dengan kesehatan, kebebasan, atau kepemilikan.

Daron dan Robinson menyusun argumentasi penguat dari “stand point” di atas. Mereka menyatakan bahwa coba lihat hampir setiap tahun, jutaan orang— di Afrika, di Asia, di Timur Tengah—terusir keluar dari rumahnya. Mereka mengalami “risk life”. Mereka (berbuat atau jadi) begitu, bukan karena mereka ingin mendapatkan rumah yang bagus. Bukan pula untuk memperoleh pendapatan yang lebih baik. Bukan pula untuk mencari kekayaan-kekayaan yang menyenangkan mereka. Mereka begitu atau mengalami seperti itu karena harus melindungi diri mereka sendiri dan keluarga mereka dari kekerasan dan ketakutan. Mereka dihantui oleh kekerasaan yang melanda kehidupan masyarakat disekitar mereka. Mereka menghadapi ketakutan demi ketakutan, sehingga mereka tak bisa lagi bebas. Mereka tak lagi merdeka untuk mengarungi kehidupan. Mereka tak bisa menjalankan kehidupan dengan normal.

Disitulah pentingnya “liberty”. Jika orang ingin merdeka, ingin bebas, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah mereka harus merasa bebas dari setiap ketakutan, intimidasi, dan sikap-sikap yang merendahkan orang lain. Orang mesti bisa bertindak tanpa intimidasi, tanpa ketakutan, dan tanpa pengaruh dari prilaku-prilaku orang lain yang merendahkan diri kita. Orang harus memiliki “free choice about their lives”, sehingga orang bisa menyatakan diri tanpa adanya ancaman-ancaman atau represi-represi dari siapapun. Kehidupan kita harus terlindung dari “dark groups”; yaitu sekelompok orang yang acapkali mengancam eksistensi keadaban kehidupan kita. Itulah sebabnya, penegakan hukum sangat penting untuk menjaga kebebasan dan kemerdekaan kita. “Where there is no law there is no freedom”, katanya lagi.

Saya tahu, Daron dan Robinson ingin memperkuat argumentasi diskusi itu dengan mengutip pernyataan John Lock seperti di atas. Karena pernyataan itu, secara implisit, mengungkapkan pentingnya kehadiran sebuah negara. Negara perlu dibentuk untuk (membantu) menyelesaikan konflik, menegakan hukum dan memastikan aturan main, serta mencegah kekerasan-kekerasan yang terjadi ditengah kehidupan masyarakat. Tanpa itu, masyarakat akan menghadapi problema endemik, berupa berkembangnya tindakan-tindakan “pembantaian” yang dilakukan sekelompok orang yang berkuasa. Jika hal itu terjadi, maka yang muncul kepermukaan kehidupan masyarakat adalah pengendalian kota-kota oleh orang-orang yang arogan. Setiap orang bisa menjadi “raja”. Apa yang dia inginkan bisa saja dilakukan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain. Orang tua bisa dikudeta oleh anaknya. Anak menohok orang tuanya, dan seterusnya. Anak perempuan diperjualbelikan dengan sesukanya. Arogansi menjadi “gaya hidup”. Dan orang-orang tak mau, tak berani, serta tak punya nyali untuk menghentikannya.

Dalam masyarakat seperti di atas, kontrol dan otoritas kehidupan ada ditangan para arogan. Untuk menghentikannya, kita memerlukan otoritas kontrol yang lebih baik, agar masyarakat kita menjadi lebih baik, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, salah satu solusi yang harus muncul adalah adanya kekuatan “check and balances”, sehingga “ambition must be made to counteract ambition”. Disinilah pentingnya dibangun sebuah sistem pemerintahan yang baik, dengan hukum yang jelas. Oleh karena itu, jika kita ingin hidup dengan “kebebasan dan kemerdekaan”, maka kita harus membangun negara. Kita membutuhkan negara. Kita juga membutuhkan hukum. Negara dan hukum yang akan memfungsikan dirinya sebagai (Pemilik) otoritas alat-alat kontrol. Negaralah yang mengontrol elite. Negara mengontrol para arogan, bukan sebaliknya.

Saya mendengarkan dengan seksama uraian sistematis Daron dan Robinson itu. Saya menyimaknya. Dalam banyak hal, saya juga memberi catatan kecil untuk didalami. Namun, sebelum catatan itu saya sodorkan, mereka melanjutkan penjelasannya. Bahwa pengontrol yang penting di dalam sebuah masyarakat itu adalah masyarakat sendiri. Kontrol harus dilakukan “by regular people, by society”. Masyarakat perlu mengontrol (pemerintahan) negara. Dengan begitu, orang atau masyarakat bisa berfungsi melindungi dan mempromosikan “people’s liberty”. Dengan kata lain, kata mereka lagi, “Liberty need a mobilized society that participate in politics, protest when it’s necessary, and votes the government out of power when it can”.

Disitulah pentingnya “liberty”. Kebebasan mendorong sebuah masyarakat atau negara untuk berkembang maju. Masyarakat akan menjadi kuat. Negara tak lagi diatur atau dikendalikan oleh para (elite) arogan. Karena sebuah negara yang kuat adalah negara yang bisa mengontrol tindakan-tindakan kekerasan, menegakan hukum, dan bisa melakukan pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, agar kita bisa membangun masyarakat dan negara yang kuat, yang harus kita lakukan adalah memberdayakan masyarakat. Jika masyarakat kuat, maka masyarakat itu juga bisa mengontrol negara yang kuat. Dengan begitu, masyarakat tak bisa dibelenggu dan dikontrol oleh negara yang kuat saja. Karena negara yang kuat saja akan memunculkan elite-elite arogan-despotik, yang bekerja sekehendak dirinya saja. Mereka umumnya memproduksi ketakutan-ketakutan dan atau represi-represi ditengah masyarakat.

Pertanyaan kemudian muncul, mengapa selalu saja terjadi ketakutan-ketakutan, represi-represi atau tekanan-tekanan yang dilakukan oleh sebuah (pemerintahan) negara? Atau negara selalu saja menebar ketakutan atau represi ditengah kehidupan masyarakat? Mengapa hukum tak bisa tegak? Dan mengapa tata tertib sosial tak bisa berjalan dengan baik? Mereka lantas menjawab: keadaan itu muncul karena di dalam masyarakat itu tak ada (absennya)—apa yang disebut sebagai—“a narrow corridor to liberty”. Sebuah koridor sempit atau terbatas yang bisa menyeimbangkan negara dengan masyarakat. Koridor yang bisa melakukan balansi antara peran negara dan peran masyarakat. Koridor yang mendorong negara dan masyarakat saling mengontrol, saling bekerjasama, serta saling mengoreksi. Untuk lebih jelasnya, saya ingin mengutipkan pernyataan Daron dan Robinson secara utuh disini: “It is in this corridor that state and society balance each other out. This balance is not about revolusionary moment. It’s a constant, day-in, day-out struggle between two. This struggle brings benefits. In the corridor the state and society do not just compete, they also cooperate. This cooperation engenders greater capacity for the state to deliver the things that society want and foment greater societal mobilization to monitor this capacity”.

Dalam menjelasakan “the narrow corridor” itu, kemudian mereka berdua bertanya sendiri. Mengapa disebut sebuah koridor, bukan disebut sebuah pintu? Kemudian mereka menjawab dengan lugas. Bahwa untuk mencapai kebebasan dan kemerdekaan itu haruslah merupakan sebuah proses. Ia tak terjadi dengan begitu saja. Kita harus mempersiapkan hukum-hukum. Kita harus mengurangi kekerasan-kekerasan. Kita harus “berdialog” dengan birokrasi. Karena birokrasi yang besar selalu cenderung mencengkram serta sulit sekali untuk bisa berubah. Itulah sebuah proses. Proses yang membebaskan belenggu atau ikatan-ikatan yang menjerat. Kita harus bekerjasama untuk memotong ikatan-ikatan dan belenggu-belenggu itu. Kita harus menyadarkan setiap orang yang terlibat di dalam pemrintahan negara (birokrasi) untuk ikut mengambil tanggungjawab. Kita juga harus menjaga agar masyarakat bisa tetap bekerja bersama. Tujuannya adalah untuk mencegah agar pengelolaan negara tak dilakukan secara sembrono. Negara tak boleh “terlalu kuat”, karena jika negara terlalu kuat, maka masyarakatnya menjadi penurut. Masyarakat semacam ini tak bermanfaat, apalagi jika negara dikelola oleh elite yang arogan dan terlalu kuat. Itu sebab, kita memerlukan “a narrow corridor”; sebuah koridor yang bisa memastikan bahwa “liberty” masih berfungsi dan berkemampuan untuk mengontrol ‘state and its elites”.

Saya menikmati diskusi dan dialog imaginer tersebut. Namun, diskusi itu harus segera saya hentikan. Waktu boarding telah tiba. Saya harus bergegas meninggalkan outlet Starbuck Coffee di Changi Airport Lounge itu, sambil tak lupa menyeruput air kopi terakhir yang sudah dingin. Saya tutup lembaran buku “The Norrow Corridor, State, Society, and The Fate of Liberty” (2019), yang ditulis oleh mereka berdua secara rapih dan hati-hati. Saya letakan kembali buku itu di dalam tas jinjing saya. Kemudian saya berjalan dengan setengah berlari menuju pintu keberangkatan. Saya telah siap kembali ke Jakarta.

Dalam penjalanan pulang itu, pikiran saya masih saja diganggu oleh “a narrow corridor”. Saya ingin sekali memastikan apakah di dalam masyarakat kita masih tumbuh subur bibit atau talenta yang terus mempromosikan“ a narrow corridor”. A narrow corridor” yang akan memelihara keseimbangan kehidupan—politik, sosial, ekonomi, dan kultural—masyarakat dan negara kita. Orang-orang yang menjaga dan merawat kehidupan yang seimbang. Kehidupan yang selalu berada ditengah, prilaku hidup moderat. Sebuah bentuk kehidupan masyarakat modern yang insklusif, terbuka, rasional, dan mensejahterakan kita bersama. Dari Singapore, “bersama Daron Acemoglu dan James A. Robinson”, saya pulang ke rumah. Saya berharap, lain kali bisa berdiskusi lagi dengan mereka.

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda