SEKILAS INFO
25-02-2021
  • 9 bulan yang lalu / Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Universitas Negeri Jakarta (KAHMI UNJ) Overseas Scholarship Series  SESSION #1 Time: Friday, June 12, 2020, 7-9 PM Jakarta (GMT+7)
  • 10 bulan yang lalu / KAHMI UNJ mengucapkan Mohon Maaf Lahir Bathin
  • 10 bulan yang lalu / Kepada alumni hmi unj dipersilahkan mengisi form pendataan alumni
22
Mei 2020
0
Transformasi Dunia Pendidikan Masa Pandemi Covid19

Dunia pendidikan kita, sekarang ini, sedang mengalami transformasi besar-besaran. Hal ini terjadi didorong oleh “keadaan darurat” penyebaran Covid-19. Data yang disampaikan Pemerintah sampai minggu ini menunjukan bahwa tak ada satu provinsipun di Indonesia yang tak memiliki kasus terdampak Covid-19. Akibatnya, semua provinsi, kabupaten dan kota, mempersiapkan diri untuk menangani dan menyekat penyebaran virus ini.

Secara nasional, kebijakan untuk menanggulangi penyebaran Covid-19 telah dilakukan secara sistematis, terencana, gradual, dan dengan mengerahkan seluruh kemampuan pemerintah untuk mengendalikan atau menghentikan penyebaran virus tersebut. Tetapi, penangangan penyebaran virus itu semestinya tak melulu dilakukan oleh pemerintah. Sepatutnya, semua masyarakat terlibat untuk berusaha menyekat penyebaran Covid-19 ini, dengan cara mengikuti anjuran pemerintah untuk bekerja dari rumah, belajar di rumah, mengajar dari rumah, beribadah di rumah. Dalam bahasa yang lebih tegas: “pokoknya diam di rumah”, agar interaksi yang dapat menimbulkan penyebaran Covid-19 ini dapat dieleminasikan. Masyarakat diminta untuk “kembali ke rumah”. Tempat dimana pendidikan yang sesungguhnya dilakukan. Dengan begitu, kita kembali kepada keluarga. Keluargalah menjadi inti pokok dari bangunan kesehatan mental sebuah masyarakat. Ia cermin dari semua prilaku yang berkembang di tengah masyarakat.

Sungguh diluar dugaan kita semua bahwa belajar di rumah dan mengajar dari rumah menimbulkan dorongan kreatifitas masif ditengah masyarakat. Orang yang selama ini bekerja dengan cara-cara konvensional, sedikit sekali memanfaatkan teknologi didalam aktivitas pekerjaan sehari-hari, lantas berusaha untuk menggunakan teknologi. Setiap orang—baik yang sudah melek teknologi, maupun yang masih belum melek teknologi—bersama-sama berusaha mencari jalan agar pekerjaannya dapat dilakukan dari rumah secara virtual. Kreatifitas, inovasi, muncul berlomba dengan segala kendala. Tak ada satupun orang yang tak terlibat. Semua ingin terlibat untuk mengerjakan aktivitasnya dengan bantuan alat teknologi. Akibatnya “technological driven” melanda semua elemen masyarakat. Saya kemudian teringat John Ellul (1987) yang mendeskripsikan sebuah masyarakat teknokratis, dimana semua elemen masyarakat berupaya untuk mendayagunakan kemampuannya untuk survive dengan menggunakan perantara teknologi, khususnya teknologi informasi.

Tak terkecuali dengan dunia pendidikan. Ketika anak-anak mulai belajar dari rumah. Guru juga mengajar dari rumah. Orang tua “terpaksa” mendampingi anak belajar di rumah. Keadaan ini menyebabkan terjadinya perubahan pola interaksi yang besar dan “revolusioner”. Guru yang sebelumnya agak gagap dalam pemanfaatan teknologi berusaha untuk menghilangkan kegagapannya. Anak yang tadinya lebih banyak memanfaatkan teknologi untuk bermain games, sekarang mereka bisa bermain games dan belajar (didalam dan) dengan sebuah gadget. Orang tua yang dahulu “menyerahkan sepenuhnya” nasib pendidikan anak-anaknya kepada sekolah, terpaksa harus mendampingi anaknya untuk belajar. Para orang tua dapat merasakan bagaimana sulitnya mengajarkan sebuah nilai kepada anak-anaknya sendiri. Para orang tua memutar otak untuk memahami konten pelajaran yang jauh telah melampaui pengetahuan dan pemahaman mereka dahulu. Para orang tua banyak sekali “meringis dan galau”, mengkhawatirkan dirinya sendiri. Mereka “takut ketahuan” oleh anak-anaknya bahwa mereka juga tak bisa serta merta memahami konten-konten baru dalam pembelajaran. Apalagi kalau berkaitan dengan substansi pembelajaran yang berkaitan dengan “STEAM”(Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics). Sebuah literasi yang sering menjadi perdebatan kita ketika PISA (Programme for International Student Assesssment) melansir laporannya setiap tiga tahun sekali. Laporan yang memberi penilaian terhadap tiga kemampuan pokok yang harus dikuasi oleh setiap anak didik, yaitu “reading, mathematical and scientific skills” (OECD, 2001).

Memang, kalau kita cermat memerhatikan lanskap pendidikan di dunia ini, maka kita akan segara tahu bahwa setiap negara memiliki model pendidikannya sendiri. Tak ada satu negarapun yang menjadi “hegemoni model” dan kemudian memaksakan modelnya untuk digunakan, atau diadopsi oleh negara lain. Inggris misalnya melakukan reformasi pendidikannya secara fundamental dengan cara menagih target yang lebih tinggi terhadap pencapaian hasil belajar. Oleh karena itu, mereka melakukan asesmen secara teratur terhadap peserta didik, mengguncangkan atau mengocok ulang kehidupan semua peserta didik dan guru-guru. Menata kembali proses pembelajaran, agar antara peserta didik dan guru-guru (bangkit) menjadi sebuah tim di dalam proses pem(belajar)an.

Begitu juga Swedia. Mereka melakukan reformasi sekolah yang dipandang orang sebagai “sebuah reformasi radikal”. Mereka memperkenalkan “Voucher” terhadap penciptaan tipe-tipe baru pembelajaran yang dilakukan oleh para orang tua. Orang tua akan mendapat “hadiah” bila bisa menciptakan pendidikan alternatif (baik metode, teknik, cara, maupun model pembelajaran) bagi anak-anaknya. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai “a new types of free schools for parents”. Atau sering juga orang menyebutnya sebagai “alternative education for children”.

Berbeda lagi dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Jepang, Korea selatan, Singapore, Hongkong. Pendidikan di negara-negara ini justru lebih banyak mengadopsi dan menekankan kepada penggunaan sistem yang memungkinkan peserta didik memperoleh “higher learning outcomes”. Mereka lebih mementingkan hasil pem(belajar)an yang tinggi, khususnya didalam bidang “reading, mathematics, and science” (Hargreaves and Shirley, 2010).

Begitu juga dengan Amerika. Mereka memfokuskan kebijakan pendidikannya dalam memperkuat akuntabilitas guru dan peserta didik untuk meningkatkan penambahan “student achievement and graduation rates”. Waktu pem(belajar)an sepenuhnya dihabiskan untuk peningkatan “higher achievement”. Akibatnya, semua perhatian (praktik) pendidikan diarahkan mengadvokasi “for new models of teacher effectiveness”. Guru dan kepala sekolah giat mencari strategi-strategi baru untuk memulihkan kekurangan, kegagalan, kelemahan yang dialami oleh sekolah, terutama dalam mengatasi kegagalan didalam mencapai “higher achievement”.

Australia, German, Belanda, New Zealand melaksanakan sistem pendidikan yang berbeda dengan negara-negara di atas. Mereka mengembangkan model pembelajaran dengan menekankan kepada “model of Monitoring educational progress”. Mereka memberi infromasi kepada setiap orang tua tentang bagaimana pem(belajar)an dilakukan, dan bagaimana proses pembelajaran itu dilakukan dengan baik. Tujuan utama yang hendak dicapai adalah bagaimana sekolah menciptakan “educational leadership” yang baik dan efektif. Oleh sebab itu, pem(belajar)an bisa dilakukan melalui studi tour, “joint research project”, dan melakukan inovasi-inovasi investigatif. Dengan begitu, peserta didik dan guru “belajar bersama” dengan cara-cara yang lebih menyenangkan.

Lain lagi yang dilakukan oleh Finlandia. Di sini kemudian saya teringat kembali kepada Timothy D. Walker (2017) yang menguraikan 33 strategi sederhana untuk menciptakan “Joyfull Classrooms”. Sebagaimana dicontohkan didalam proses pendidikan di Finlandia. Finlandia melakukan reformasi pendidikannya dengan fokus perhatian kepada (1) menciptakan standar-standar (mutu) yang lebih tinggi; (2) berusaha memperoleh informasi yang lebih rinci tentang capaian-capaian peserta didik; (3) memberikan alternatif pilihan yang lebih bervariasi kepada orang tua untuk menyekolahkan anak-anaknya: (4) membuat sekolah khusus untuk anak-anak yang termasuk kedalam kategori “gifted children”. Untuk mengusahakan itu semua, Finlandia melakukan beberapa hal penting yang bersifat kritikal, yaitu: (1) memastikan peserta didik membayar lebih baik (murah) untuk pendidikannya dibandingkan dengan biaya pendidikan di negara-negara lain; (2) melaksanakan apa yang disebut dengan “comprehensive school”, dimana peserta didik mempelajari semua konten pembelajaran secara seimbang dan holistik; (3) Pendidikan berfokus kepada peserta didik (child-focus education); (4) kurikulum memuat subyek yang memungkinkan peserta didik dapat mempertemukan dan memberi kesempatan semua anak “to cultivate multiple aspects of their personalities and talents”; (5) semua sekolah harus menjadi “be good school”, dimanapun letaknya, dan kapanpun layanan diberikan; (6) setiap anak harus bisa belajar di dalam “socially mixed classes”, tanpa harus mengikuti jalur dan segregasi oleh kemampuan anak dan status sosial anak; (7) sekolah harus memperhatikan “the spirit of inclusiveness”. Spirit ini harus tercermin dalam cara berpikir guru dan orang tua. Dengan kata lain, fokus pendidikan anak kepada “well-being, health, and happiness” di sekolah.

Untuk melakukan itu semua, dimana kelas-kelas bersifat heterogen (berisi dari berbagai latar status sosial anak, berbagai kemampuan anak), bukan kelas-kelas yang bersifat homogen (hanya terdiri dari anak-anak pintar saja, atau anak yang berasal dari status sosial tertentu), pemerintah melakukan pelatihan-pelatihan guru yang bisa mengasuh kelas-kelas semacam itu. Akibatnya, lembaga pendidikan guru, yang tadinya berupa “colleges” diubah menjadi “research universities”. Calon guru dididik dan harus menguasi, selain pedagogi, juga harus menguasi psikologi anak, pendidikan khusus, didaktika subyek, dan pengembangan kurikulum. Dengan kata lain, guru-guru harus profesional (dalam arti sesungguhnya, bukan dalam arti hanya bertanda sertifikat). Guru profesional yang dibayangkan adalah mereka yang mampu “mengontrol kurikulum”, mampu memilih “the most efective ways to teach. Mampu melakukan asesmen terhadap apa yang telah dipelajari oleh peserta didik. Guru yang dapat dipercaya oleh peserta didik dan para orang tua, bahwa mereka bisa mengajarkan pelajaran secara atraktif kepada anak-anak di dalam kelas.

Di dalam menyelenggarakan pendidikannya di sekolah, dikembangkan semacam sebuah mekanisme yang dapat memastikan bahwa disekolah terjadi “enhance children”s well-being and health”. Tujuan dari pengembangan mekanisme ini adalah untuk menciptakan basis utama atau landasan bagi keberhasilan pendidikan anak di sekolah. Disetiap sekolah dibentuk “the student welfare team”. Anggotanya terdiri dari para ahli, guru, dan pemimpin masyarakat. Tugasnya adalah untuk mendiskusikan berbagai isu-isu pendidikan yang terjadi di sekolah, dan bagaimana mereka mentekel atau menyelesaikannya dengan alternatif jalan yang paling baik.

Begitu juga dengan kepemimpinan di sekolah. Kepala sekolah hanya bisa diisi oleh guru berpengalaman yang memiliki kualitas yang baik. Pertimbangan menjadi kepala sekolah adalah guru-guru hebat yang berhasil di dalam mengajar. Ia juga memiliki kepemimpinan yang baik, sehingga ia mampu memimpin semua orang yang terlibat di dalam sekolah itu, sehingga organisasi sekolah bisa berjalan dengan baik. Prinsip pokoknya di dalam pemilihan Atau penentuan kepala sekolah adalah pada “the leader in school have direct link to classroom experience”. Dalam bahasa Sahlberg (2015) dinyatakan sebagai “leader are teachers and teachers are (pedagogical) leaders”.

Dalam sistem pendidikan Finlandia, masalah “student,s out-of-school situation” juga mendapatkan perhatian yang baik. Apa yang terjadi kepada anak ketika mereka tak berada di sekolah sangat menentukan dan berperan banyak di dalam keberhasilan seorang anak ketika mengikuti pendidikan anak. Keterlibatan anak di dalam klub komunitas, mengikuti jaringan organisasi diluar sekolah, mempunyai pengaruh signifikan terhadap kesehatan mental anak, modal sosial anak, dan kesejahteraan anak. Oleh karena itu, anak-anak diharuskan mengikuti berbagai aktivitas diluar sekolah. Mereka harus memanfaatkan “free time”nya untuk mengikuti kegiatan olah raga, kesenian, kegiatan kebudayaan, dan sebagainya. Hal ini dipandang sangat penting, sebagai “complementary knowledge and skills” yang melengkapi apa yang mereka pelajari di sekolah. Anak-anak harus mempunyai, minimal satu hobbi di luar sekolah.

Dari berbagai pengalaman negara menyelenggarakan pendidikan (di sekolah) kita belajar lagi. Tak ada satu jalan yang harus ditempuh untuk mencapai kesuksesan didalam belajar. Oleh karena itu, apapun jalan yang diambil, tiga komponen pokok pendidikan (orang tua-masyarakat, guru-sekolah, pemerintah) harus terlibat langsung. Mereka harus bahu membahu terlibat didalam proses pendidikan anak. Mereka tak boleh ada yang abai. Orang tua tak bisa lagi menyerahkan semua urusan pendidikan anaknya kepada lembaga sekolah, tanpa reserve. Mereka harus bersikap kompatibel terhadap apa yang dikerjakan oleh guru-guru di sekolah. Sementara pemerintah harus bisa (memastikan dan) memfasilitasi bahwa “all schools must be good school”. Dengan begitu, kita optimistik masa depan kita akan lebih baik, lebih bahagia, dan lebih sejahtera.

EFEK INTERAKTIF
22 Mei 2020

EFEK INTERAKTIF

REALITAS PERSONAL
22 Mei 2020

REALITAS PERSONAL

KEWARGAAN ETIK
20 Jun 2020

KEWARGAAN ETIK

Persepsi
20 Jun 2020

Persepsi

Silahkan masuk untuk bisa menulis komentar.

Data Organisasi

KAHMI MAJELIS RAYON UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Jl. Rawamangun Muka, RT.11/RW.14, Rawamangun, Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13220.
KEC. Pulogadung
KOTAMADYA. Jakarta Timur
PROV. DKI Jakarta
KODE POS 13220

Agenda